Media Asing Menanggapi Rencana Indonesia Membentuk Danantara
- Antara
Rincian Rencana dan Pengelolaan Aset Negara
Danantara dirancang untuk mengkonsolidasikan saham pemerintah di berbagai perusahaan BUMN yang memiliki peran dominan dalam perekonomian Indonesia. Beberapa perusahaan yang termasuk dalam lingkup pengelolaan ini antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Pertamina, PLN, Telkom Indonesia, MIND ID, serta Semen Indonesia. Menurut data resmi, perusahaan-perusahaan negara tersebut memiliki total aset gabungan senilai Rp11.684,3 triliun pada tahun 2023 dan telah menyumbangkan dividen sebesar Rp82,1 triliun kepada Kementerian Keuangan.
Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan kepada parlemen bahwa pembentukan Danantara dilakukan dengan tujuan utama untuk mengkonsolidasikan pengelolaan BUMN dan mengoptimalkan pengelolaan dividen serta investasi. Dalam upaya tersebut, pemerintah berencana mengambil alih seluruh kepemilikan negara yang sebelumnya dikelola oleh Kementerian BUMN, sehingga menciptakan sinergi dan efisiensi dalam pengelolaan aset strategis. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian, tetapi juga membuka peluang kerjasama strategis dengan investor asing.
Konsep Danantara sendiri terinspirasi dari kesuksesan Temasek, lembaga investasi negara Singapura yang saat ini memiliki nilai portofolio sebesar $284 miliar dan telah memberikan pengembalian pemegang saham sebesar 14% sejak didirikan pada tahun 1974. Dengan mengadopsi model serupa, pemerintah berharap Danantara dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia serta meningkatkan daya saing di pasar global.
Reaksi Media Asing dan Publik Internasional
Langkah ambisius Indonesia dalam membentuk Danantara telah menarik perhatian media asing. Berbagai pemberitaan dari outlet berita internasional, seperti Reuters, Financial Times, dan lainnya, memberikan sorotan tajam terhadap potensi dan risiko yang melekat pada inisiatif ini. Beberapa media menganggap bahwa pembentukan Danantara merupakan terobosan strategis yang berpotensi mengoptimalkan pengelolaan aset negara dan mendatangkan investasi asing yang besar. Namun, terdapat pula peringatan dari analis keuangan, seperti CreditSights dari Fitch Group, yang menilai bahwa lembaga ini bisa rentan terhadap campur tangan politik dan inefisiensi integrasi aset.
CreditSights mencatat bahwa jika Danantara mampu mengkonsolidasikan BUMN secara efektif, maka akan terjadi peningkatan akses pendanaan dan peningkatan kinerja operasional yang signifikan. Namun, risiko yang diidentifikasi meliputi potensi pengaruh politik pada penggunaan dana, proses integrasi yang kompleks, serta dampak terhadap arah strategis BUMN. Risiko-risiko tersebut dianggap dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap perusahaan portofolio, sehingga pengawasan yang ketat dan kerangka hukum yang kuat menjadi sangat penting.