Siswa Berkompetisi Melawan AI dalam Lomba Menulis, Hasilnya Mengejutkan!
- pixabay
Malang, WISATA – Meningkatnya penggunaan alat tulis AI seperti ChatGPT telah menimbulkan rasa ingin tahu dan kekhawatiran di ruang kelas di seluruh dunia. Dengan beberapa klik, siapa pun dapat membuat esai yang terdengar bagus, koheren dan tepat secara akademis.
Namun saat siswa, guru dan lembaga bergulat dengan implikasinya, muncul pertanyaan utama: dapatkah mesin benar-benar meniru nuansa pemikiran manusia?
Sebuah studi baru dari University of East Anglia, dengan seorang kolaborator dari Jilin University, menyelidiki pertanyaan tersebut, dengan membandingkan ratusan esai yang ditulis oleh mahasiswa dengan esai yang dibuat oleh AI.
Mereka menilai 145 esai mahasiswa dan jumlah yang sama yang dibuat oleh ChatGPT, memindai setiap esai untuk mencari isyarat yang mengundang pembaca untuk terlibat.
Para ilmuwan berharap hasil ini akan membantu guru dan badan ujian di seluruh dunia dalam menandai tugas yang mencurigakan. Detektor perangkat lunak masih menghasilkan hasil positif palsu, jadi penilaian manusia tetap penting.
Dengan mempelajari kebiasaan wacana yang digunakan sebagian besar siswa, para penilai dapat menyadari saat naskah menghilangkan kesan pribadi yang biasanya mewarnai prosa sarjana.
Pengetahuan ini mendukung penilaian yang adil dan membantu menjaga integritas akademis di kelas-kelas yang sudah dibanjiri dengan alat AI generatif.
Profesor Ken Hyland dari Sekolah Pendidikan dan Pembelajaran Sepanjang Hayat UEA menyuarakan kekhawatiran yang mendorong projek tersebut.
“Sejak dirilis ke publik, ChatGPT telah menimbulkan kecemasan yang cukup besar di kalangan guru yang khawatir siswa akan menggunakannya untuk mengerjakan tugas mereka,” kata Hyland, yang memperingatkan tentang bahaya yang lebih luas.
Kekhawatirannya adalah ChatGPT dan alat tulis AI lainnya berpotensi memfasilitasi kecurangan dan dapat melemahkan keterampilan literasi inti dan berpikir kritis. Hal ini terutama terjadi karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi teks yang dibuat AI secara andal.
Para peneliti mencari pertanyaan, komentar pribadi, seruan langsung dan 'penanda keterlibatan' lainnya.
“Kami khususnya tertarik untuk melihat apa yang kami sebut sebagai ‘penanda keterlibatan’ seperti pertanyaan dan komentar pribadi,” kata Hyland.