Stoicisme: Mengendalikan Apa yang Bisa Dikendalikan dan Menerima yang Tak Bisa Diubah

Zeno dari Citium
Sumber :
  • Image Creator/Handoko

Malang, WISATA - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan dan tekanan. Mulai dari masalah pekerjaan, hubungan sosial, hingga kesehatan, semua bisa menimbulkan stres yang mengganggu kesejahteraan mental kita. Di tengah dinamika hidup yang penuh ketidakpastian, filosofi Stoicisme menawarkan pendekatan yang sederhana namun mendalam: fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan dan terimalah dengan lapang dada apa yang tidak bisa kita ubah.

Orang Sibuk Tidak Hidup, Mereka Hanya Ada: Pelajaran dari Seneca

Apa Itu Stoicisme?

Stoicisme adalah aliran filsafat yang berkembang di Yunani kuno, didirikan oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Filosofi ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh terkenal seperti Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca. Stoicisme menekankan pada pengendalian diri, ketenangan pikiran, dan kehidupan yang selaras dengan alam.

10 Kutipan Terbaik dari Donald Robertson, Tokoh Stoikisme Modern yang Bisa Menjadi Inspirasi

Inti dari ajaran Stoicisme adalah dikotomi kendali, yang mengajarkan kita untuk membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita. Stoik percaya bahwa kebahagiaan dan kedamaian batin dapat dicapai dengan memfokuskan energi kita pada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan melepaskan kecemasan atas hal-hal yang tidak bisa kita ubah.

Prinsip Dasar Stoicisme

Mengalahkan Ego: Pelajaran Berharga dari Ryan Holiday untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi Stoicisme dapat dipecah menjadi beberapa prinsip dasar yang, jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dapat membantu seseorang mengatasi tekanan dan ketidakpastian hidup.

1. Dikotomi Kendali

Halaman Selanjutnya
img_title