20 Filsuf yang Paling Berpengaruh di Dunia, Beserta Konsepsi Pemikirannya

Socrates
Sumber :
  • Image Creator/Handoko

Confucius (551–479 SM) adalah tokoh besar dalam filsafat Tiongkok yang menekankan nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Ajarannya, yang dituangkan dalam kitab Analek, menekankan pentingnya hubungan antar manusia, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial. Konsep-konsep seperti "Ren" (kemanusiaan) dan "Li" (tata krama) masih sangat berpengaruh dalam budaya dan sistem pendidikan di Asia Timur.

Kebahagiaan Sejati: Dari Cara Pandang, Bukan Harta, Menurut Chrysippus

16. Laozi: Filosofi Tao dan Harmoni Alam

Laozi, pendiri Taoisme, adalah figur legendaris yang ajarannya dituangkan dalam kitab Tao Te Ching. Filosofi Laozi menekankan kesederhanaan, keharmonisan dengan alam, dan pentingnya mengikuti “Tao” atau jalan alam. Pemikiran ini mengajarkan bahwa kehidupan yang ideal adalah yang sejalan dengan ritme alam dan tidak terjebak dalam ambisi duniawi yang berlebihan.

Cara Socrates Mematahkan Argumentasi Kaum Sofis tentang Kebenaran Relativisme

17. Thomas Aquinas: Sintesis Filsafat dan Teologi

Thomas Aquinas (1225–1274) merupakan tokoh penting dalam tradisi skolastik yang mencoba menyatukan filsafat Aristoteles dengan ajaran Kristen. Dalam karyanya, "Summa Theologica", Aquinas menyusun argumen logis yang mendalam mengenai eksistensi Tuhan, moralitas, dan hukum alam. Pemikirannya membantu membentuk dasar intelektual bagi pemikiran teologis dan etika di Eropa abad pertengahan.

Socrates vs. Kaum Sofis: Kritik Pedas dan Pengakuan Kontribusi dalam Sejarah Filsafat

18. David Hume: Skeptisisme dan Empirisme

David Hume (1711–1776) dikenal karena pendekatannya yang skeptis terhadap pengetahuan dan penekanan pada empirisme. Hume mempertanyakan asal usul kepercayaan dan menganggap bahwa pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya. Karyanya menantang pandangan tradisional tentang sebab-akibat dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan serta filsafat modern.

19. Baruch Spinoza: Monisme dan Rasionalisme

Baruch Spinoza (1632–1677) mengajukan pandangan monistik yang menyatakan bahwa alam semesta adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam karyanya, "Ethics", Spinoza membahas bagaimana Tuhan dan alam adalah satu entitas yang sama. Pemikirannya yang rasionalis menekankan bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan melalui alasan dan logika, tanpa perlu bergantung pada dogma atau kepercayaan mistis.

20. Jiddu Krishnamurti: Kebebasan Pikiran dan Pembebasan Diri

Halaman Selanjutnya
img_title