Albert Camus: “Kebodohan Punya Cara Sendiri untuk Menang”

Albert Camus
Sumber :
  • Cuplikan layar

"Stupidity has a knack of getting its way."
Albert Camus

img_title Pelatihan Braille UM Perkuat Pendidikan Tinggi yang Inklusif dan Setara

Jakarta, WISATA - Dalam dunia yang dipenuhi informasi, opini, dan kebisingan digital, kutipan Albert Camus ini terasa menampar kesadaran kita. Ia menyatakan bahwa kebodohan memiliki bakat untuk mendapatkan jalannya sendiri. Artinya, dalam banyak keadaan, ketidaktahuan bukan hanya hadir — tetapi sering kali menang.

Ini bukan sekadar ejekan terhadap kebodohan. Kalimat Camus mencerminkan kekecewaan seorang pemikir terhadap masyarakat yang kerap lebih percaya pada hal-hal dangkal daripada kebenaran yang rumit. Dan sayangnya, dalam berbagai segi kehidupan sosial, politik, dan budaya, kutipan ini terbukti relevan hingga hari ini.

img_title 10 Novel Filsafat Ini Bawa Sobat Wisata Viva 'Piknik' ke Alam Pikiran, dari Sophie's World sampai 1984

Kebodohan: Bukan Sekadar Ketidaktahuan

Dalam pengertian umum, kebodohan sering disamakan dengan kurangnya pengetahuan. Namun Camus tampaknya berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam — kebodohan yang disengaja. Yakni kondisi di mana seseorang memilih untuk mengabaikan kebenaran, menolak berpikir kritis, dan lebih nyaman dengan opini dangkal karena terasa lebih aman atau populer.

img_title Hoaks Erupsi Gunung Lawu yang Viral di Media Sosial, Badan Geologi Pastikan Kondisi Masih Normal

Kebodohan semacam ini bukan hanya masalah personal, tetapi dapat menjadi epidemi sosial. Ketika orang-orang berhenti berpikir, ketika diskusi publik digantikan oleh ujaran emosional, ketika fakta dikalahkan oleh sensasi, maka kebodohan perlahan mengambil alih.

Mengapa Kebodohan Menang?

Camus menggunakan kata "knack" — sebuah kemampuan khusus — yang menunjukkan bahwa kebodohan punya caranya sendiri untuk menyusup, menyebar, dan mengalahkan. Dalam masyarakat modern, ada beberapa faktor yang membuat kebodohan lebih mudah “menang”:

1.     Informasi Instan dan Tidak Tersaring
Di era digital, semua orang bisa bicara. Tapi tidak semua yang dibicarakan memiliki dasar kebenaran. Informasi yang viral bukanlah yang paling benar, tetapi yang paling menarik. Ini membuka ruang lebar bagi kebodohan untuk berkembang.

2.     Popularitas Mengalahkan Kompetensi
Di banyak negara, tokoh publik lebih mudah mendapat sorotan karena kontroversi daripada karena kecerdasan. Pemimpin yang bermain dengan emosi publik sering kali lebih mudah terpilih daripada yang menawarkan gagasan rasional.

3.     Budaya Anti-Kritis
Dalam banyak kasus, berpikir kritis dianggap sebagai bentuk perlawanan atau keributan. Alih-alih didorong untuk bertanya, masyarakat justru didorong untuk patuh, menerima, dan tidak banyak protes.

Halaman Selanjutnya
img_title