Dari Kleisthenes ke Populisme: Evolusi Demokrasi yang Menjadi Sorotan Dunia
- Image Creator Bing/Handoko
Namun, meskipun demokrasi tampaknya menjadi sistem pemerintahan yang ideal, dalam prakteknya, banyak negara yang mengalami distorsi terhadap prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri. Seiring dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya ketidaksetaraan ekonomi, muncul fenomena yang dikenal dengan nama "populisme."
Populisme mengacu pada fenomena politik di mana pemimpin yang berfokus pada suara rakyat dapat mengeksploitasi ketidakpuasan masyarakat untuk meraih dukungan. Pemimpin populis sering kali menggunakan narasi yang sederhana dan menjanjikan solusi instan, meskipun kebijakan yang mereka tawarkan tidak selalu dapat direalisasikan dengan efektif. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai pemilu di dunia, seperti kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat atau Brexit di Inggris, di mana politik identitas dan retorika anti-elit mendominasi.
Populisme dan Ancaman Terhadap Demokrasi
Populisme, meskipun muncul sebagai bentuk partisipasi rakyat, ternyata bisa menggerus prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri. Pemimpin populis sering kali merusak mekanisme checks and balances, melemahkan institusi yang sudah ada, dan memperburuk polarisasi sosial. Dalam konteks ini, populisme bukanlah solusi untuk masalah demokrasi, melainkan tantangan besar bagi kelangsungannya.
Di banyak negara, kekuatan uang dan media sosial telah menjadi alat ampuh bagi pemimpin populis untuk memperburuk ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. Mereka menggunakan narasi yang bersifat divisif dan mengabaikan kompleksitas masalah, yang dapat menyesatkan opini publik dan membawa negara pada arah yang salah.
Apakah Demokrasi Bisa Bertahan?
Melihat perjalanan panjang demokrasi, dari Kleisthenes hingga populisme di era modern, kita dapat menyimpulkan bahwa demokrasi masih menjadi sistem yang relevan dan penting, namun tetap harus diuji dan terus berkembang