Menghidupkan Stoikisme untuk Generasi Millennial: Dari Zeno hingga Sharon Lebell
- Image Creator Bing/Handoko
Jakarta, WISATA - Di tengah kesibukan generasi millennial yang terjebak dalam arus informasi tak berujung, Stoikisme—filsafat kuno yang berasal dari Yunani kuno—kembali menjadi pusat perhatian. Filosofi ini menawarkan panduan untuk menghadapi tekanan hidup modern dengan ketenangan dan kebijaksanaan. Dari ajaran Zeno, pendiri Stoikisme, hingga karya kontemporer Sharon Lebell, Stoikisme kini relevan untuk membantu generasi muda menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Apa Itu Stoikisme?
Stoikisme lahir di Athena pada abad ke-3 SM. Zeno dari Citium, pendiri mazhab ini, mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada keadaan eksternal, melainkan pada cara kita meresponsnya. Prinsip ini kemudian diteruskan oleh tokoh besar seperti Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca.
Ajaran mereka mencakup:
- Dikotomi Kendali: Fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan lepaskan yang tidak bisa kita ubah.
- Premeditatio Malorum: Membayangkan skenario buruk untuk mempersiapkan mental.
- Virtue as the Highest Good: Menjadikan kebajikan sebagai tujuan utama hidup.
Generasi Millennial dan Tantangan Era Modern
Generasi millennial hidup di era digital yang penuh tekanan. Media sosial menciptakan ilusi kesempurnaan, sementara ekspektasi pekerjaan dan kehidupan pribadi sering kali membebani mental. Di sinilah Stoikisme masuk sebagai penyeimbang.