Menghindari Hiruk Pikuk: Tren Wisata JOMO Berpadu dengan Kearifan Lokal Indonesia

Wisata Jomo di Gunung Bromo
Sumber :
  • Image Creator/Handoko

Jakarta, WISATA - Di tengah arus kehidupan modern yang semakin cepat, banyak orang merasa lelah dengan hiruk-pikuk yang tak berkesudahan. Di sinilah tren wisata Joy of Missing Out (JOMO) hadir sebagai solusi. Berbeda dari tren perjalanan pada umumnya, JOMO menekankan kebahagiaan yang muncul dari ketenangan dan melepaskan diri dari tekanan sosial. Dalam konteks Indonesia, JOMO menjadi lebih menarik ketika berpadu dengan kearifan lokal yang kaya dan penuh makna.

Kebajikan Bukanlah Anugerah, Melainkan Hasil dari Latihan Berkesinambungan

Mengapa JOMO Menjadi Tren?

Konsep JOMO muncul sebagai jawaban atas kelelahan sosial yang banyak dirasakan akibat era digital. Media sosial sering kali menciptakan tekanan untuk selalu "ikut" dalam setiap tren. Dengan mengadopsi JOMO, seseorang bisa memilih untuk menikmati momen sederhana tanpa merasa kehilangan.

25 Kutipan dan Pesan Socrates tentang Kebahagiaan: Renungan Filsafat untuk Jiwa Modern

Indonesia, dengan keberagaman budaya dan keindahan alamnya, menjadi tempat ideal untuk melaksanakan wisata JOMO. Dari pegunungan yang sepi hingga desa-desa adat yang penuh kedamaian, wisatawan dapat menemukan tempat untuk melepaskan diri dari segala hiruk-pikuk dunia modern.

Sentuhan Kearifan Lokal dalam Wisata JOMO

Apa Kata Neurosains tentang Stoikisme? Bukti Ilmiah di Balik Keteguhan Emosi ala Filsuf Kuno

Kearifan lokal Indonesia menjadi nilai tambah dalam tren JOMO. Praktik-praktik tradisional seperti meditasi, ritual pembersihan jiwa, dan perawatan tubuh berbasis herbal dapat memberikan dimensi baru pada pengalaman wisata yang menenangkan.

Beberapa contoh kearifan lokal yang relevan untuk wisata JOMO adalah:

Halaman Selanjutnya
img_title