Pelatihan Braille UM Perkuat Pendidikan Tinggi yang Inklusif dan Setara
- sustainability.um.ac.id
Malang, WISATA – Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LPPP) Universitas Negeri Malang (UM) melalui Pusat Layanan Penyandang Berkebutuhan Khusus (PLPBK) menggelar Pelatihan Braille bagi dosen dan tenaga kependidikan pada 18 Mei 2026. Berlangsung selama tujuh jam di Aula Gedung B17 LPPP UM, kegiatan ini diikuti 44 peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Malang.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif. Peserta dibekali kemampuan dasar membaca dan menulis Braille agar dapat memberikan layanan akademik maupun administratif yang lebih mudah diakses mahasiswa penyandang disabilitas netra.
Kebutuhan terhadap layanan pendidikan yang setara menjadi salah satu alasan utama kegiatan ini digelar. Pendidikan inklusif tidak cukup hanya didukung regulasi dan kebijakan kampus, tetapi juga membutuhkan kesiapan dosen serta tenaga kependidikan untuk memahami kebutuhan mahasiswa dengan beragam kondisi. Penguasaan Braille menjadi salah satu keterampilan yang dapat membantu memperlancar komunikasi sekaligus memperluas akses terhadap informasi akademik.
Dua dosen UM, Sinta Yuni Susilawati, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A., hadir sebagai narasumber. Materi mencakup konsep pendidikan inklusif, karakteristik mahasiswa dengan disabilitas netra, prinsip layanan akademik aksesibel, hingga pengenalan sistem Braille.
Pelatihan berlangsung secara interaktif. Selain pemaparan materi, peserta mengikuti demonstrasi, praktik membaca dan menulis Braille, diskusi kelompok, serta tanya jawab. Peserta juga berlatih mengenali alfabet, angka, serta menyusun kata dan kalimat sederhana menggunakan media Braille.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai pendidikan inklusif dan kemampuan dasar menggunakan Braille. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, pelatihan ini mendorong kesadaran bahwa aksesibilitas merupakan bagian penting dari kualitas layanan pendidikan tinggi.
Program tersebut juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya Target 4.5 dan 4.a. Penguatan kompetensi dosen serta tenaga kependidikan diharapkan mampu memperluas layanan pendidikan yang ramah disabilitas.
Keterlibatan peserta dari berbagai perguruan tinggi turut membuka peluang terjadinya efek berantai. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan di institusi masing-masing serta dibagikan kepada rekan sejawat.