Heraclitus vs. Parmenides: Pertarungan Abadi tentang Perubahan dan Ketetapan

Filsuf Heraclitus
Sumber :
  • Image Creator Grok/Handoko

Pandangan Heraclitus tentang Realitas yang Dinamis

Jejak Kebijaksanaan: Kearifan Aristotle, Buddha, Rumi, dan Buya Hamka

Heraclitus berargumen bahwa segala sesuatu selalu dalam proses transisi. Ia menggunakan analogi sungai yang mengalir untuk menunjukkan bahwa setiap pengalaman bersifat unik dan tidak dapat diulang. Bagi Heraclitus, perubahan adalah esensi kehidupan—sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus diterima sebagai bagian dari alam semesta. Ia percaya bahwa di balik setiap perubahan terdapat tatanan tersendiri, yang ia sebut sebagai Logos, prinsip rasional yang mengatur seluruh fenomena alam.

Pandangan Parmenides tentang Realitas yang Abadi

Rahasia Stoicisme ala Pierre Hadot: Hidup Bijaksana di Tengah Kekacauan

Parmenides, sebaliknya, menolak ide bahwa perubahan adalah sesuatu yang mendasar. Menurutnya, jika perubahan itu nyata, maka realitas tidak akan konsisten. Dalam pandangannya, hanya ada “yang ada” yang bersifat tetap, sedangkan segala sesuatu yang tampak berubah hanyalah hasil dari persepsi inderawi yang menyesatkan. Parmenides mengajukan argumen bahwa keberadaan tidak dapat muncul dari ketiadaan, sehingga segala sesuatu haruslah bersifat abadi dan tidak berubah.

Argumen dan Bukti Filosofis

Pierre Hadot: Filsuf yang Menghidupkan Kembali Stoicisme di Era Modern

Bukti dalam Fragmen Heraclitus

Meskipun karya Heraclitus sebagian besar tersisa sebagai fragmen pendek, inti pemikirannya dapat diringkas dalam beberapa pernyataan kunci. Ia menyatakan, “Anda tidak dapat menginjak sungai yang sama dua kali,” yang menandakan bahwa setiap momen membawa perubahan. Dalam konteks ini, Heraclitus melihat dunia sebagai entitas yang terus berkembang, di mana kekacauan dan keteraturan berpadu dalam suatu siklus abadi. Bagi Heraclitus, perubahan adalah kreatif—proses yang tidak hanya menghancurkan tetapi juga menciptakan kembali.

Halaman Selanjutnya
img_title