Massimo Pigliucci: Kebahagiaan Sejati Tidak Berasal dari Hal-Hal Eksternal, tetapi ...
- Image Creator Grok/Handoko
Jakarta, WISATA - Di dunia yang serba cepat dan penuh persaingan ini, banyak orang menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang harus dikejar di luar diri mereka. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial sering kali menjadi tolok ukur kebahagiaan. Namun, apakah benar kebahagiaan sejati datang dari semua itu?
Massimo Pigliucci, seorang filsuf modern yang menghidupkan kembali ajaran Stoikisme, menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari hal-hal eksternal, tetapi dari bagaimana kita menjalani hidup dengan kebajikan.
Artinya, bukan apa yang kita miliki yang menentukan kebahagiaan kita, tetapi bagaimana kita bertindak, berpikir, dan merespons kehidupan. Jika kita hidup dengan kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan keberanian, maka kita akan menemukan kedamaian batin yang jauh lebih bernilai daripada semua kekayaan di dunia.
Mengapa Banyak Orang Salah Memahami Kebahagiaan?
Di era modern ini, kita dibombardir dengan narasi bahwa kebahagiaan bisa dibeli. Media sosial, iklan, dan budaya konsumtif sering kali menanamkan pemikiran bahwa semakin banyak kita memiliki, semakin bahagia kita.
Kita melihat orang lain memiliki rumah mewah, mobil mahal, dan gaya hidup glamor, lalu berpikir, "Jika aku bisa memiliki semua itu, pasti hidupku akan lebih bahagia."
Tapi kenyataannya, banyak orang yang memiliki semua hal tersebut tetap merasa tidak puas. Mereka terus mengejar lebih banyak hal, seolah-olah kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan menambah angka di rekening bank atau jumlah pengikut di media sosial.
Pigliucci mengajak kita untuk melihat kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai sesuatu yang berasal dari luar, tetapi sesuatu yang muncul dari dalam—dari cara kita menjalani hidup dengan kebajikan.
Apa Itu Kebajikan, dan Mengapa Itu Kunci Kebahagiaan?
Dalam filsafat Stoikisme, kebajikan adalah satu-satunya hal yang benar-benar bernilai dalam hidup. Kebajikan ini mencakup empat pilar utama:
- Kebijaksanaan – kemampuan untuk berpikir dengan jernih dan bertindak dengan rasional.
- Keberanian – kekuatan untuk menghadapi tantangan dan ketidakpastian tanpa takut.
- Keadilan – bertindak dengan adil dan memperlakukan orang lain dengan hormat.
- Kendalikan Diri – kemampuan untuk mengatur emosi dan keinginan agar tidak dikuasai oleh nafsu sesaat.
Menurut Pigliucci, jika kita membangun hidup kita berdasarkan nilai-nilai ini, kita tidak perlu bergantung pada faktor eksternal untuk merasa bahagia. Kita akan menemukan kepuasan dalam cara kita menjalani hidup, bukan dalam apa yang kita miliki.
Kebahagiaan Sejati Datang dari Cara Kita Merespons Hidup
Banyak hal di dunia ini berada di luar kendali kita—mulai dari opini orang lain, cuaca, kondisi ekonomi, hingga hasil dari usaha kita. Jika kita mengandalkan kebahagiaan pada hal-hal ini, maka kita akan selalu kecewa.
Bayangkan seseorang yang mengaitkan kebahagiaannya dengan karier. Ketika ia mendapat promosi, ia merasa bahagia. Tetapi ketika ia mengalami kegagalan, ia jatuh dalam kesedihan yang mendalam.
Sebaliknya, seseorang yang memahami bahwa kebahagiaan berasal dari bagaimana ia menjalani hidup dengan kebajikan akan tetap merasa damai, baik saat sukses maupun gagal. Ia tahu bahwa yang terpenting bukan hasil akhirnya, tetapi bagaimana ia menghadapi setiap situasi dengan bijaksana dan bermartabat.
Contoh Nyata: Hidup dengan Kebajikan
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang tampaknya selalu tenang dan bahagia, meskipun hidupnya jauh dari kata sempurna?
Mungkin Anda mengenal seseorang yang hidup sederhana tetapi selalu tersenyum dan memiliki ketenangan batin. Atau seseorang yang mengalami kegagalan tetapi tetap bangkit dengan semangat dan tanpa dendam.
Inilah contoh dari orang-orang yang memahami bahwa kebahagiaan tidak datang dari memiliki segalanya, tetapi dari cara mereka menjalani hidup dengan nilai-nilai yang benar.
Sebaliknya, kita juga sering melihat orang yang tampaknya memiliki segalanya—kekayaan, ketenaran, kesuksesan—tetapi tetap merasa gelisah dan tidak bahagia. Ini karena mereka terus mencari kebahagiaan di tempat yang salah.
Bagaimana Cara Menerapkan Pemikiran Ini dalam Kehidupan Sehari-Hari?
Untuk mulai menjalani hidup dengan kebajikan seperti yang diajarkan oleh Pigliucci dan para filsuf Stoik, kita bisa melakukan beberapa hal sederhana:
- Berhenti mengandalkan kebahagiaan pada hal-hal eksternal. Jangan biarkan kebahagiaan Anda bergantung pada pendapat orang lain, status sosial, atau materi.
- Fokus pada apa yang bisa Anda kendalikan. Kendalikan cara berpikir, bertindak, dan bereaksi terhadap situasi, bukan hasil akhirnya.
- Berlatih bersyukur. Jangan selalu mencari apa yang belum Anda miliki. Hargai dan syukuri hal-hal kecil dalam hidup.
- Hiduplah dengan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan kendali diri. Jadikan nilai-nilai ini sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.
- Refleksi diri setiap hari. Sebelum tidur, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku telah hidup dengan kebajikan hari ini?"
Semakin kita berlatih, semakin kita akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang menjadi pribadi yang lebih baik.
Kesimpulan: Kebahagiaan Ada di Dalam Diri Kita
Massimo Pigliucci mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari hal-hal eksternal, tetapi dari bagaimana kita menjalani hidup dengan kebajikan.
Jika kita terus mencari kebahagiaan dari kekayaan, status, atau pengakuan orang lain, kita akan selalu merasa kurang. Tetapi jika kita fokus menjalani hidup dengan nilai-nilai yang benar—kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan kendali diri—kita akan menemukan ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh apa pun.
Jadi, mulai sekarang, mari berhenti mengejar kebahagiaan di tempat yang salah. Alih-alih bertanya, "Apa lagi yang bisa membuatku bahagia?", tanyakan, "Bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan lebih baik?"
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengendalikan dunia, tetapi kita selalu bisa mengendalikan diri kita sendiri. Dan di situlah letak kebahagiaan sejati.