BIBC 2025: Jembatan Emas UMKM Nusantara Menuju Pasar Global

Bali International Business Connect
Sumber :
  • Handoko/Istimewa

Bali,  WISATA, – Indonesia kembali bersiap memperkuat eksistensinya di kancah perdagangan internasional melalui penyelenggaraan Bali International Business Connect (BIBC) 2025 yang akan digelar pada 20–21 September 2025 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali. Kegiatan ini diproyeksikan menjadi katalis utama bagi produk unggulan dalam negeri seperti kopi, rempah, dekorasi rumah, dan kerajinan tangan untuk menembus pasar global secara berkelanjutan.

img_title Melbourne ke Bali dalam Sekali Terbang, Rute Baru TransNusa Buka Pintu Beyond Bali bagi Wisatawan Australia

BIBC 2025 hadir bukan sekadar sebagai ajang pameran, melainkan sebagai platform strategis yang menghubungkan pelaku UMKM Indonesia dengan pembeli internasional yang berkomitmen pada perdagangan adil (fair trade) dan keberlanjutan lingkungan.

Menjawab Tantangan Pasar Global

img_title Naik Ferry Ketapang–Gilimanuk dari Banyuwangi ke Bali Mulai Rp60 Ribu: Satu Jam Menyeberang, Ini Panduan Lengkapnya

Menurut panitia pelaksana, BIBC 2025 dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi produsen kecil di Indonesia, yakni keterbatasan akses terhadap pasar ekspor dan rendahnya daya saing. Padahal, produk seperti biji kopi khas nusantara, vanili, cengkeh, hingga kerajinan tangan dari rotan dan kayu memiliki nilai tambah tinggi di pasar internasional.

Melalui kegiatan ini, pelaku usaha diajak untuk meningkatkan standar produk mereka, mulai dari sertifikasi organik, kemasan ramah lingkungan, hingga strategi branding digital yang profesional.

img_title Bali–Timor Leste Business Forum 2026 Hasilkan Tiga Kesepakatan Strategis

Diperkuat Kolaborasi Internasional

Momentum penyelenggaraan BIBC 2025 juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperluas kerja sama ekonomi hijau. Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam kunjungan resmi ke Selandia Baru baru-baru ini menekankan pentingnya sinergi antara Indonesia dan negara-negara mitra seperti Selandia Baru dalam memperkuat perdagangan berkelanjutan.

“Kolaborasi di sektor perdagangan dan energi terbarukan sangat penting untuk menghadapi tantangan deglobalisasi dan proteksionisme. UMKM menjadi kunci penggerak utama dalam skema ini,” ujarnya saat bertemu dengan pelaku usaha yang tergabung dalam ASEAN–New Zealand Business Council (ANZBC) di Auckland.

Hal ini diperkuat dengan mulai diberlakukannya Protokol Kedua ASEAN–Australia–New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) pada 21 April 2025, yang menitikberatkan pada penguatan UMKM dan perdagangan inklusif.

Peserta Terpilih, Produk Berkualitas

BIBC 2025 akan melakukan proses kurasi ketat terhadap peserta. Hanya UMKM dengan legalitas usaha lengkap, kapasitas produksi jelas, strategi pemasaran yang terdokumentasi, serta standar pengemasan ekspor yang memadai yang akan dipilih.

Halaman Selanjutnya
img_title