Mutiara Hikmah: Muhammad Ibn Sammak – Hikmah dan Keberanian dalam Menyuarakan Kebenaran
- Image Creator Grok/Handoko
Jakarta, WISATA - Dalam sejarah Islam, banyak tokoh sufi yang tidak hanya dikenal karena ketakwaan dan kebijaksanaan mereka tetapi juga karena keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Salah satunya adalah Muhammad Ibn Sammak, seorang ulama dan sufi yang dikenal karena hikmah dalam berbicara serta keberaniannya dalam menasihati para penguasa dengan penuh kebijaksanaan.
Muhammad Ibn Sammak: Ulama yang Dihormati karena Hikmah dan Kebenaran
Muhammad Ibn Sammak hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah dan dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat dan para pemimpin pada zamannya. Ia bukan hanya seorang ulama yang mendalami ilmu fikih dan tasawuf, tetapi juga seorang penasehat yang berani mengingatkan para penguasa agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
Keberanian dan ketegasannya dalam menasihati para pemimpin tidak menjadikannya sosok yang kasar, melainkan seseorang yang penuh kelembutan dan hikmah. Ia memahami bahwa menyampaikan kebenaran harus dengan cara yang bijaksana agar nasihatnya dapat diterima dengan baik.
Ia pernah berkata, "Kebenaran itu pahit bagi mereka yang mencintai dunia, tetapi manis bagi mereka yang mencintai Allah."
Keberanian Menasihati Para Penguasa
Salah satu aspek yang paling menonjol dari kehidupan Muhammad Ibn Sammak adalah keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran kepada para pemimpin. Di masa itu, banyak ulama yang enggan menegur penguasa karena takut akan hukuman atau kehilangan kedudukan. Namun, Ibn Sammak tidak tergoda oleh dunia dan tetap teguh dalam menyuarakan keadilan.
Suatu ketika, ia diundang oleh seorang khalifah yang terkenal dengan kemewahannya. Sang khalifah bertanya kepadanya, "Apa pendapatmu tentang kerajaan ini?"
Ibn Sammak menjawab dengan tenang, "Wahai Amirul Mukminin, kerajaan ini seperti air yang engkau minum ketika kehausan. Jika engkau tidak mendapatkannya, engkau akan mati. Dan jika engkau telah meminumnya, engkau harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah."
Jawaban ini membuat sang khalifah terdiam dan merenungkan makna kekuasaan yang sesungguhnya. Ibn Sammak ingin menyampaikan bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati dengan bebas, tetapi sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat.
Hikmah dalam Berbicara: Menggabungkan Ilmu dan Akhlak
Ibn Sammak dikenal sebagai seorang yang memiliki tutur kata lembut namun penuh makna. Ia tidak hanya mengandalkan pengetahuan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga menggunakan kebijaksanaan agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh pendengarnya.
Ia pernah berkata, "Perkataan yang baik adalah yang keluar dari hati yang bersih dan niat yang tulus."
Sebagai seorang sufi, ia memahami bahwa berbicara tanpa ilmu hanya akan menyesatkan, sementara berbicara tanpa akhlak hanya akan melukai hati orang lain. Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya menggabungkan keduanya agar kebenaran dapat disampaikan dengan cara yang benar.
Dalam salah satu ceramahnya, ia pernah mengatakan, "Jika engkau ingin menyampaikan kebenaran, janganlah menyampaikannya dengan kemarahan, tetapi dengan kasih sayang, karena kebenaran yang disampaikan dengan kelembutan lebih mudah diterima daripada yang disampaikan dengan kekerasan."
Zuhud: Menolak Kesenangan Duniawi
Meskipun sering berinteraksi dengan para penguasa, Ibn Sammak tidak tertarik pada kemewahan dunia. Ia lebih memilih hidup sederhana dan menjauhi segala bentuk kenikmatan dunia yang dapat mengotori hatinya.
Suatu ketika, seorang pejabat menawarkan hadiah yang sangat berharga kepadanya. Namun, ia menolaknya dengan berkata, "Jika aku menerima hadiah ini, aku takut lidahku tidak akan mampu lagi menyampaikan kebenaran kepadamu."
Penolakan ini menunjukkan bahwa Ibn Sammak memahami bahaya duniawi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam berkata-kata dan bertindak. Ia lebih memilih menjaga kemurnian hatinya daripada menikmati harta yang dapat membungkam kebenaran.
Pelajaran Berharga dari Muhammad Ibn Sammak
Dari kehidupan dan ajaran Muhammad Ibn Sammak, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
1. Keberanian dalam menyampaikan kebenaran adalah tanda keimanan yang kuat.
Seorang Muslim harus tetap berpegang teguh pada prinsip Islam meskipun menghadapi tekanan dari penguasa atau masyarakat.
2. Hikmah dalam berbicara lebih penting daripada sekadar berbicara.
Menyampaikan kebenaran harus dilakukan dengan cara yang bijaksana agar dapat diterima dengan baik oleh orang lain.
3. Kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Pemimpin yang bijaksana adalah mereka yang sadar bahwa jabatan dunia hanyalah sementara dan harus digunakan untuk kebaikan.
4. Menjauhi kecintaan terhadap dunia akan mendekatkan hati kepada Allah.
Semakin seseorang zuhud terhadap dunia, semakin hatinya akan dipenuhi dengan ketenangan dan kebijaksanaan.
5. Keikhlasan dalam menyampaikan kebenaran lebih utama daripada ketakutan terhadap manusia.
Ulama sejati adalah mereka yang tidak takut menegakkan kebenaran meskipun berhadapan dengan penguasa yang zalim.
Penutup
Muhammad Ibn Sammak adalah sosok ulama dan sufi yang menjadi teladan dalam keberanian dan kebijaksanaan. Ia mengajarkan bahwa menyampaikan kebenaran harus dilakukan dengan penuh hikmah dan tanpa rasa takut terhadap manusia, karena sesungguhnya hanya kepada Allah kita bertanggung jawab.
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.