Pesona Wat Phra Mahathat Kuno dalam Pusaran Sejarah dan Warisan Dunia
- placesandfoods.com
Malang, WISATA – Jelajahi keindahan Wat Phra Mahathat kuno di Thailand Selatan yang kini resmi menjadi Warisan Dunia UNESCO dengan kemegahan stupa emas serta tradisinya.
Petualangan melintasi waktu di daratan Asia Tenggara selalu menyimpan keajaiban budaya yang tak ada habisnya. Salah satu sudut terindah yang patut masuk dalam daftar prioritas liburan Anda adalah kawasan Nakhon Si Thammarat di Thailand Selatan. Di tempat ini berdiri anggun sebuah kompleks candi Wat Phra Mahathat kuno yang tak hanya menyajikan keindahan arsitektur megah, tetapi juga aura spiritualitas yang kental. Kehadiran candi Wat Phra Mahathat kuno unik ini membawa magnet tersendiri bagi para wisatawan yang mendambakan pengalaman perjalanan penuh makna.
Pengakuan Dunia untuk Mahakarya Abadi
Kabar gembira menyelimuti panggung pariwisata internasional ketika Wat Phra Mahathat kuno unik bersejarah ini secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 25 Juli 2026 dalam pertemuan penting di Busan, Korea Selatan. Penetapan ini menjadi tonggak sejarah yang sangat membanggakan karena menjadikannya situs budaya pertama dari wilayah Thailand Selatan yang berhasil masuk ke dalam daftar bergengsi tingkat dunia. Perjuangan panjang selama lebih dari 14 tahun yang dilakukan pemerintah setempat bersama masyarakat lokal akhirnya berbuah manis, mengukuhkan nilai penting kawasan ini sebagai pusat peradaban yang tetap hidup hingga saat ini.
Legenda Relik Suci dan Jejak Sejarah Sejak Zaman Kuno
Menyusuri area candi terasa bagai membuka kembali lembaran kitab sejarah berumur hampir 1.500 tahun. Berdasarkan kisah lokal yang diwariskan secara turun-temurun, keberadaan candi ini berawal dari perjalanan seorang pangeran dan putri yang membawa relik gigi Sang Buddha dari India demi menyelamatkannya dari ancaman perang. Mereka membawa harta spiritual tersebut ke tanah Nakhon Si Thammarat, yang kala itu merupakan kota pelabuhan transit utama yang menghubungkan rute perdagangan India, Sri Lanka dan Tiongkok.
Seiring berjalannya waktu, sebuah stupa raksasa dibangun untuk memuliakan relik tersebut. Kompleks ini terus berkembang di bawah naungan berbagai raja dan penguasa dari masa ke masa. Perpaduan gaya arsitektur Brahman-Hindu, Mahayana, hingga Theravada berbaur dengan sangat harmonis, menciptakan corak bangunan khas yang menjadi inspirasi bagi tempat-tempat peribadatan di kawasan semenanjung.