Ritual Mistis Nusa Penida, Jejak Calonarang dan Filosofi Barong-Rangda yang Sulit Dipahami Logika Modern
- IG/fivepillarexperiences
Nusa Penida, WISATA – Nusa Penida tidak hanya dikenal karena tebing karang, pantai berpasir putih, dan panorama lautnya. Di balik keindahan pulau yang berada di Kabupaten Klungkung, Bali, tersimpan pula berbagai tradisi spiritual yang memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan dunia sekala dan niskala.
Salah satu kisah yang terdengar nyaris mustahil adalah cerita tentang seorang relawan yang sengaja direbahkan di kawasan kuburan pada tengah malam. Dalam cerita yang berkembang, orang tersebut berperan sebagai semacam “umpan” untuk menghadapi ancaman tak kasatmata yang dipercaya dapat mengganggu keselamatan desa. Setelah prosesi tertentu dilakukan, ancaman tersebut diyakini dapat dialihkan sehingga masyarakat lainnya tetap terlindungi. Kisah semacam ini memang sulit dipahami hanya dengan logika modern. Namun, bila ditelusuri melalui khazanah budaya Bali, terdapat konteks yang membuat cerita tersebut menjadi lebih menarik.
Jejaknya dapat dikaitkan dengan keberadaan Lontar Kawisesan Calonarang yang berasal dari Desa Sekartaji, Nusa Penida. Museum Semarajaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung, mencatat naskah tersebut sebagai lontar kuno berbahasa Kawi yang terdiri atas 20 lembar. Isinya antara lain memuat mantra penangkal, pengobatan, ilmu kekebalan, serta berbagai kawisesan yang berkaitan dengan perlindungan dan penolak gangguan.
Di sinilah nama Calonarang menjadi penting. Dalam kebudayaan Bali, kisah Calonarang tidak sekadar cerita tentang tokoh yang memiliki kekuatan magis. Tradisi Calonarang berkembang menjadi bagian dari seni pertunjukan, ritual, dan pembahasan mengenai kekuatan yang dianggap mampu mengganggu keseimbangan kehidupan.
Konsep tersebut kemudian berkelindan dengan simbol Barong dan Rangda. Barong kerap dipahami sebagai sosok pelindung, sementara Rangda merepresentasikan kekuatan yang berlawanan. Pertentangan keduanya bukan semata-mata pertarungan antara “baik” dan “jahat”, melainkan gambaran mengenai keseimbangan kekuatan dalam kehidupan.
Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mencatat Barong sebagai sosok mitologis yang dipercaya memiliki kekuatan gaib dan berfungsi sebagai pelindung.
Tradisi Bali lainnya juga menunjukkan adanya upacara yang ditujukan untuk menjaga keseimbangan dan keselamatan desa dari gangguan yang dipercaya berasal dari ranah niskala. Kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, misalnya, mendokumentasikan ritual Basmerah Nyambleh di Taman Pohmanis yang memiliki fungsi menjaga ketenteraman desa secara sekala dan niskala.