Misteri Geometri Mesir Kuno: Rahasia Coretan Scribe di Atas Papirus
- archaeologymag.com/Kelly, T.
Malang, WISATA – Menelusuri Jejak Misteri Geometri Mesir Kuno Lewat Coretan Diagram Scribe yang Mengungkap Metode Berhitung Praktis Ribuan Tahun Lalu
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana para juru tulis atau scribe di Mesir era Romawi mengukur luas ladang gandum atau merancang tempat penyimpanan hasil panen? Ribuan tahun yang lalu, ketika seorang juru tulis membutuhkan ukuran pasti dari sebuah lahan tanah, ia akan mengambil pena lalang (reed pen) lalu menggoreskan sketsa bentuk segitiga di atas lembaran papirus. Ia kemudian menuliskan angka-angka di sepanjang sisi bentuk tersebut. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan menggambar diagram ini sangat umum dilakukan, dan sketsa-sketsa sederhana itu ternyata menjalankan peran yang sangat vital dalam perhitungan nyata masyarakat zaman dahulu.
Thomas Kelly, seorang ilmuwan klasik (classicist) dari University of Cambridge, telah berhasil menyusun katalog lengkap pertama yang mendokumentasikan gambar-gambar kuno tersebut. Kelly mengkaji sepuluh papirus berbahasa Yunani yang memuat berbagai soal geometri dari abad pertama hingga keempat Masehi. Sebagian teks hanya memuat satu masalah matematika, sementara yang lain berisi hingga 38 masalah. Selama ini, para pakar belum pernah mengumpulkan diagram-diagram tersebut dalam satu wadah karena lembaran papirus tersebut tersebar di berbagai koleksi museum dan diedit dengan cara berbeda. Kelly menggambar ulang setiap sketsa dan memberikan catatan mendalam pada masing-masing gambar. Hasil penelitian penting tentang misteri geometri Mesir kuno yang memikat ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Historia Mathematica.
Rumus Berhitung Mirip Resep Masakan Kuno
Jika dibaca hari ini, soal-soal geometri dalam papirus Mesir kuno itu terasa seperti lembaran resep masakan yang praktis. Salah satu contoh soal menyajikan bentuk setengah lingkaran (semicircle) dengan panjang kaki 5 schoinia dan diameter 10 schoinia. Petunjuknya meminta pembaca untuk menjumlahkan kedua angka tersebut, mengambil setengah nilainya, lalu mengalikan hasilnya dengan angka 5. Jawabannya adalah 37 setengah arourai. Tepat di bawah petunjuk tertulis itu, sang scribe menyertakan gambar sketsa setengah lingkaran.
Penggunaan satuan pengukuran seperti schoinia untuk panjang dan arourai untuk luas menunjukkan bahwa matematika saat itu terikat erat dengan urusan praktis kehidupan sehari-hari, seperti pengukuran batas tanah pertanian, pembuatan parit, hingga kapasitas gudang penyimpanan jelai. Matematika bukan sekadar teori abstrak di atas kertas, melainkan alat kerja nyata untuk bertahan hidup dan mengelola administrasi wilayah.
Gambar Sederhana yang Mementingkan Fungsi Dibanding Estetika
Para juru tulis kuno ini jelas bukan seorang seniman yang cermat dalam melukis. Pena lalang yang mereka gunakan hanya mampu menampung sedikit tinta, ditambah lagi serat-serat kasar papirus sering kali menyangkut ketika mereka mencoba menarik garis lurus. Tak heran jika beberapa garis menunjukkan jejak percobaan berulang kali. Karena tidak ada yang menggunakan jangka (compass), bentuk lingkaran yang dihasilkan pun tampak sedikit miring dan tidak presisi.
Segitiga siku-siku hampir selalu digambar dengan pola visual yang sama: sudut siku-siku diletakkan di pojok kiri bawah dengan alas yang lebih panjang daripada tingginya. Dalam satu kasus, ada segitiga yang memiliki alas sepanjang 7 unit dan tinggi 9 unit, namun sang scribe tetap menggambar bentuk tersebut hampir dua kali lebih lebar dibanding tingginya. Kelly menilai bahwa tampilan bentuk yang familier dan konsisten jauh lebih penting bagi mereka daripada akurasi proporsi visual. Selain itu, bentuk-bentuk standar tersebut memakan lebih sedikit ruang pada lembaran papirus yang berharga.
Penulisan label angka juga memiliki aturan kebiasaan yang sangat rapi. Nilai-nilai yang diketahui diletakkan di luar garis bentuk. Sementara itu, luas area dan jawaban akhir dituliskan di dalam bentuk atau di sisi kanan luar yang menjadi tempat khusus untuk hasil perhitungan. Juru tulis juga sering menuliskan angka tambahan. Dalam P. Math, sebuah codex pengajaran dari abad keempat, sebuah segitiga menampilkan nilai kuadrat dari kedua sisinya yang ditulis tepat di samping sisi tersebut. Salah satu nilai, yaitu 225, sebenarnya belum dibutuhkan sampai langkah perhitungan berikutnya. Kelly mengartikan catatan ekstra ini sebagai alat bantu ingatan (memory aid). Lembaran papirus bertindak sebagai penyimpan angka, sehingga sang juru tulis tidak perlu membebaninya di dalam kepala.
Diagram Sebagai Ruang Kerja dan Bukti Logis
Dalam beberapa lembaran papirus, diagram memegang peran yang jauh lebih berat. Pada papirus koleksi Chicago, teks tulisan sama sekali tidak memuat angka pengukuran. Pembaca wajib menarik dan mengambil setiap nilai angka langsung dari gambar diagram yang tersedia. Contoh lain ada pada P. Bagnall 35, di mana sketsa terletak di antara pernyataan masalah dan langkah penyelesaian. Teks tulisan menyebutkan petunjuk arah seperti utara dan barat, yang tidak akan masuk akal tanpa kehadiran gambar di sampingnya. Pembaca benar-benar membutuhkan sketsa visual tersebut untuk mengikuti langkah penyelesaian soal.
Kelly membagi tiga peran utama diagram kuno ini: sebagai ruang kerja (workspace) untuk berhitung, alat bantu ingatan untuk masalah yang rumit, serta sarana untuk memverifikasi dan memeriksa hasil perhitungan. Ia membandingkan papirus-papirus ini dengan lembar soal ujian sekolah modern di Inggris, di mana siswa mengamati diagram terlebih dahulu lalu mengambil data angka dari gambar. Namun, ada satu perbedaan mencolok. Diagram kuno Mesir juga langsung menyertakan jawaban akhirnya. Menuliskan seluruh label angka membuat teks dan gambar menyatu menjadi satu kesatuan utuh. Pembaca dapat melihat bagaimana metode bekerja, lalu memahami langkah yang sama ketika diterapkan pada angka-angka baru. Kelly menyebut teks ini berfungsi hampir seperti sebuah pembuktian (proof) ilmiah.
Pentingnya melihat sketsa asli ditunjukkan dalam sebuah kasus nyata. Pada tahun 1932, editor papirus Wina mencetak ulang diagram untuk masalah volume piramida dalam bentuk gambar dua dimensi yang sangat rapi dan datar. Padahal, papirus aslinya memuat sketsa kasar yang digambar miring untuk memperlihatkan kedalaman perspektif tiga dimensi. Versi cetak yang terlalu rapi itu justru menghapus pilihan metodologis yang sebenarnya dibuat oleh sang juru tulis. Melalui katalog terbarunya, Kelly berharap para akademisi dan peneliti masa depan dapat menghindari kekeliruan serupa serta mengapresiasi kecerdasan para juru tulis kuno secara lebih utuh.
Sumber: Historia Mathematica