160 Tahun Berlalu, Kacang Polong Mendel Masih Mengubah Ilmu Pengetahuan
- pixabay
Malang, WISATA – Percobaan perintis Gregor Mendel dengan tanaman kacang polong meletakkan dasar bagi ilmu genetika lebih dari 160 tahun yang lalu.
Kini, tim peneliti internasional telah memanfaatkan genomik, bioinformatika dan genetika untuk memetakan keragaman koleksi kacang polong yang penting secara global. Pekerjaan mereka telah mengungkap wawasan baru tentang sifat-sifat yang dipelajari Mendel dan mengungkap keluasan keragaman genetik yang bernilai bagi pertanian yang belum pernah ada sebelumnya.
Menurut penulis sebuah studi baru, bank gen dan sumber daya genom yang diperluas yang sekarang tersedia bagi para peneliti dan pemulia di seluruh dunia memiliki potensi untuk mengubah pemuliaan kacang polong dan memajukan penelitian terhadap kacang-kacangan yang sangat penting bagi lingkungan ini.
“Kolaborasi kami telah menciptakan sumber daya genomik dengan kedalaman dan keluasan yang luar biasa, termasuk seluruh data rangkaian genom untuk kacang polong,” kata salah satu penulis korespondensi, Dr. Noam Chayut, yang mengelola Unit Sumber Daya Plasma Nutfah (GRU) di John Innes Centre.
Saat ini, para peneliti dan perusahaan multinasional telah memesan benih yang sesuai dengan sumber daya genomik baru, yang akan merevolusi cara perusahaan membudidayakan kacang polong, dan cara para ilmuwan mempelajarinya, di seluruh dunia.
Penelitian ini, yang muncul dalam jurnal Nature, dibangun atas kerja sama antara John Innes Centre (JIC) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tiongkok (CAAS), bersama dengan kelompok penelitian lain di Tiongkok, Inggris, AS, dan Prancis.
Studi penting ini muncul pada saat kacang polong dan kacang-kacangan lainnya digunakan sebagai sumber protein nabati dan sebagai tanaman berkelanjutan yang dapat menyerap nitrogen sendiri. Ini berarti kacang polong dan tanaman kacang-kacangan lainnya membutuhkan lebih sedikit pupuk kimia untuk tumbuh, yang berpotensi mengurangi polusi tanah dan sungai.