Tradisi Bertani Masyarakat Kasepuhan Jamrut di Tengah Modernisasi dengan Keberlanjutan Benih Lokal

Padi Lokal
Sumber :
  • mongabay.co.id

Banten, WISATA – Mayoritas masyarakat Kasepuhan Jamrut atau masyarakat adat kaolotan diketahui berprofesi sebagai petani dengan total lahan garapan seluas 60 hektar. Benih lokal seperti padi ungu, cere belut, dan merah putih tetap dipertahankan.

MALANG: Dukung Ketahanan Pangan, Lanud Abdul Rahman Saleh Tanam Jagung Bersama Kelompok Tani

Di Kabupaten Lebak, sembilan varietas benih padi lokal telah disertifikasi secara nasional oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), termasuk pare bunar, padi caok, dan padi sereh kanekes. Kekayaan varietas benih lokal Indonesia telah diwariskan turun-temurun, namun modernisasi pertanian menyebabkan banyak varietas lokal terpinggirkan. Upaya sistematis pemerintah dalam menjaga keberagaman genetik ini dinilai masih minim, sehingga ribuan varietas benih lokal telah lenyap.

Sebagai bentuk konservasi, sekitar 600 varietas benih lokal telah dikumpulkan dan diidentifikasi oleh Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), dengan 500 di antaranya berupa padi. Program ini dilakukan melalui pengembangan bank benih komunitas, pendampingan petani dalam pembiakan benih mandiri, serta advokasi kebijakan agar benih lokal tetap diakui dan didukung pemerintah. Di komunitas adat seperti Kasepuhan Banten dan Sedulur Sikep, benih lokal masih menjadi bagian penting dari kehidupan bertani.

UB Malang: Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis Teknologi AI

Keunggulan benih lokal dalam ketahanan terhadap perubahan iklim sering diabaikan, padahal benih tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan selama ratusan tahun dan lebih tahan terhadap kondisi ekstrem dibandingkan varietas unggul baru. Dalam beberapa uji coba di lahan food estate, varietas baru dilaporkan mengalami kegagalan.

Dalam tradisi Kasepuhan, padi dianggap hasil bumi terpenting, sehingga diperlakukan dengan penuh penghormatan. Rangkaian proses bertani, seperti asup leuweng, melak pare, ngubaran pare, hingga seren taun, masih terus dilakukan setiap tahun. Setiap panen, gabah wajib disimpan di rumah leuit sebagai cadangan pangan keluarga. Sebanyak 174 unit rumah leuit tercatat di kampung ini, dengan kapasitas penyimpanan masing-masing 2 ton.

Wawancara Eksklusif dengan Dr. Adhiguna Mahendra: AI untuk Mendorong Kemandirian Bangsa dan Ketahanan Nasional

Leuit, yang dibuat dari bambu dan kayu, tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga menjadi simbol kedaulatan pangan masyarakat. Beberapa gabah yang disimpan bahkan telah berusia lebih dari 30 tahun.

Di Desa Wangunjaya, yang memiliki luas 2.800 hektar, dimana Kasepuhan Jamrut tinggal, sekitar 80 persennya berprofesi sebagai petani dengan hasil utama berupa beras dan gula aren, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang.

Halaman Selanjutnya
img_title