PALEMBANG: Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Sumsel, Dorong Pengembangan Desa Wisata

Objek Wisata di Perbatasan Kota Palembang dan Banyuasin
Sumber :
  • antaranews.com/Yudi Abdullah/24

Palembang, WISATA Masyarakat Sadar Wisata (Masata) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memfasilitasi masyarakat di 17 kabupaten dan kota dalam provinsi untuk mengembangkan desa wisata, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.

"Desa wisata dengan potensi unggulan masing-masing daerah perlu terus dikembangkan, untuk itu pihaknya bersama pemerintah daerah berupaya memfasilitasi masyarakat yang akan memanfaatkan potensi desanya menjadi destinasi wisata," ujar Ketua Masata Sumsel, Herlan Aspiudin di Palembang, pada hari Minggu (15/12/2024).

Menurutnya, di wilayah provinsi ini, dalam beberapa tahun terakhir mulai banyak dikembangkan desa wisata, bahkan ada yang mendapat Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) atau penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Anugerah Pesona Indonesia (API) Award.

Desa yang tersebar di sejumlah daerah di Sumsel memiliki banyak potensi wisata, jika dikembangkan atau dikemas menjadi desa wisata dengan konsep ekowisata, dapat menjadi daya tarik wisatawan lokal, Nusantara dan mancanegara berkunjung ke desa.

Herlan mengatakan, untuk mengembangkan desa wisata, bisa mencontoh desa wisata warna warni Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel yang pernah meraih juara II kategori Ekowisata Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award pada 2020.

Selain itu, ada pula desa wisata Sungsang, Kabupaten Banyuasin yang memiliki topografi daratan yang mayoritas perairan sungai, dengan pohon mangrove di sekitar bibir sungai, hasil sumber daya alam yang melimpah dengan mata pencarian utama sebagai nelayan.

Contoh lainnya, Saung Bambu Pelangi, objek wisata yang dikembangkan masyarakat di sekitar kawasan permukiman penduduk di desa perbatasan Kota Palembang dengan Kabupaten Banyuasin.

Atau Desa Gajah Mati dan Desa Tegal di Kabupaten Musi Banyuasin yang meraih penghargaan Anugerah Pesona Desa Wisata Sumsel 2023.

Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat mendapatkan penghargaan kategori kelembagaan mengembangkan inovasi kelembagaan desa yang mendukung pariwisata dengan objek wisatanya 'Embung Senja'.

Sedangkan Desa Tegal Mulyo, Kecamatan Keluang, Muba yang meraih penghargaan kategori 'homestay', menawarkan pengalaman menginap yang autentik dan menarik bagi para wisatawan, menjadi contoh nyata bagaimana menghidupkan sektor 'homestay'di pedesaan.

"Pengembangan desa wisata tersebut, diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat dan kepala desa lainnya yang memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah menariknya," ungkap Herlan.

Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi, sebelumnya mengatakan, pihaknya mendukung masyarakat dan kepala desa untuk memanfaatkan potensi daerahnya menjadi destinasi wisata menarik.

Dengan banyaknya desa wisata, diharapkan dapat memberikan variasi pilihan destinasi wisata bagi masyarakat, wisatawan lokal dan mancanegara.

Selain pengembangan dan penataan destinasi wisata, pihaknya juga berupaya mengembalikan status Bandara SMB II Palembang menjadi internasional.

"Hal ini menjadi faktor penting untuk menarik lebih banyak wisatawan internasional ke Palembang dan daerah sekitarnya," imbuh Pj Gubernur Sumsel.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Pandji Tjahjanto mengatakan masih banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke Kota Palembang dan daerah lain sekitarnya, meski Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II tidak lagi berstatus internasional.

Ada ribuan wisatawan mancanegara yang tercatat berkunjung ke daerah ini sepanjang tahun 2024, seperti dari sejumlah negara Eropa dan ASEAN.

Destinasi wisata yang dikunjungi seperti wisata sejarah, budaya, dan wisata religi.

Untuk terus mempertahankan daerah ini tetap diminati wisatawan mancanegara dan meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggalnya, pihaknya terus melakukan penataan objek wisata dan melakukan promosi.

(Sumber: antaranews.com)

Yogyakarta Etnaprana: Menemukan Keseimbangan Jiwa di Desa Wisata Berkelanjutan