Belajar dari Makanan Gratis Kekaisaran Romawi untuk Program MBG Indonesia

Ilustrasi MBG Indonesia
Sumber :
  • IG/lpmperistiwa

Jakarta, WISATA – Jauh sebelum negara modern menjalankan program bantuan pangan, Kekaisaran Romawi telah memiliki kebijakan penyediaan makanan bagi masyarakatnya. Sistem tersebut dikenal sebagai Cura Annonae, yaitu pengelolaan pasokan pangan oleh negara, terutama gandum, untuk memenuhi kebutuhan penduduk Roma.

img_title UNDIP dan Pertamina Resmi Buka Program Profesi Insinyur bagi 300 Perwira Terpilih

Dalam tradisi Romawi, Annona merupakan personifikasi pasokan gandum tahunan yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kelimpahan. Annona kerap dikaitkan dengan Ceres, dewi pertanian. Pemerintah Romawi kemudian membangun sistem pengadaan, transportasi, dan distribusi gandum untuk menjaga ketersediaan pangan di ibu kota.

Pengalaman tersebut menarik untuk dilihat kembali di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Meski tidak dapat disamakan secara langsung, keduanya memiliki satu persoalan mendasar: bagaimana negara menyediakan makanan dalam jumlah besar secara berkelanjutan.

img_title Kawista Ngegong Madiun Resmi Diluncurkan, Hadirkan Wisata Edukasi dan Program Sahabat Tani Cilik untuk Generasi Muda

Roma merupakan kota dengan populasi sangat besar pada masanya. Pasokan gandum bahkan harus didatangkan dari berbagai wilayah, termasuk Afrika Utara, Sisilia, Sardinia, dan Mesir. Kondisi tersebut membuat pemerintah membutuhkan jaringan logistik dan administrasi yang kompleks.

Pelajaran pertama untuk MBG adalah keberlanjutan anggaran. Program berskala nasional tidak cukup hanya memiliki dana besar, tetapi membutuhkan perencanaan fiskal jangka panjang. Pada 2026, sebagian besar anggaran Badan Gizi Nasional dialokasikan untuk MBG, menunjukkan besarnya sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan program tersebut.

img_title Luhut Akui Persiapan Program MBG Kurang Matang: "Itu Salah Kita Semua", Ternyata Ini Penyebabnya!

Pelajaran kedua adalah ketepatan sasaran dan kualitas makanan. Dalam sistem Romawi, distribusi pangan juga tidak otomatis diberikan kepada seluruh penduduk. Sementara itu, MBG memiliki kelompok penerima manfaat yang telah ditentukan. Karena itu, keberhasilan program seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, tetapi juga dari kualitas gizi, keamanan pangan, dan dampaknya terhadap penerima. Standar gizi MBG sendiri telah diatur melalui Peraturan BGN Nomor 5 Tahun 2026.

Pelajaran ketiga adalah pentingnya rantai pasok. Makanan gratis dalam skala besar membutuhkan petani, pemasok, dapur, tenaga pengolah, transportasi, hingga sistem pengawasan yang saling terhubung. Jika satu bagian terganggu, distribusi dapat ikut terdampak.

Di sinilah MBG memiliki peluang lebih luas. Program tersebut tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal apabila bahan pangan berasal dari petani, nelayan, peternak, UMKM, dan pemasok daerah.

Halaman Selanjutnya
img_title