Khutbah Jumat: Makna Isra Mikraj dan Keutamaan Salat
- Ig/ramadanmu_
Jakarta, WISATA – Khutbah Jumat yang disampaikan pada 16 januari 2025 menekankan pentingnya menjadikan iman dan takwa sebagai landasan utama kehidupan seorang Muslim. Khutbah diawali dengan wasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa tidak hanya dimaknai sebagai sikap batin, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata melalui ketaatan menjalankan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Dikutip dari islam.nu.or.id, dalam khutbah ditegaskan bahwa kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, tidak akan dapat diraih tanpa iman dan takwa. Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 63–64 yang menegaskan bahwa orang-orang beriman dan bertakwa akan memperoleh kabar gembira dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Kemudian khutbah mengulas salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab, yakni peristiwa Isra dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW. Mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa agung tersebut terjadi pada malam 27 Rajab. Dalam perjalanan luar biasa itu, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dan pada puncaknya mendapat kehormatan untuk menghadap dan bermunajat secara langsung kepada-Nya.
Peristiwa Isra Mikraj memiliki makna yang sangat penting karena di dalamnya diturunkan perintah Salat. Berbeda dengan kewajiban ibadah lainnya seperti puasa, zakat, dan haji yang disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril, perintah Salat diterima langsung oleh Rasulullah SAW tanpa perantara. Hal ini menunjukkan kedudukan Salat yang sangat istimewa dalam ajaran Islam.
Dijelaskan bahwa Salat bukan sekadar rutinitas ibadah berupa gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT. Saat melaksanakan Salat, seorang mukmin sejatinya sedang berdiri di hadapan Tuhannya, bermunajat dengan ayat-ayat-Nya, dan menyerahkan seluruh urusan hidup kepada-Nya. Karena itulah Salat kerap disebut sebagai Mi‘raj-nya orang-orang beriman.
Melalui khutbah jumat, jamaah diingatkan agar melaksanakan Salat dengan penuh penghayatan dan kekhusyukan. Setiap bacaan dan gerakan hendaknya diresapi maknanya, karena pada saat itu seorang hamba sedang berdialog langsung dengan Allah SWT. Hal ini dikuatkan oleh hadis qudsi yang menyebutkan bahwa ketika seorang hamba membaca Surah Al-Fatihah dalam Salat, Allah SWT menjawab setiap ayat yang dibacanya. Pesan tersebut menegaskan bahwa Salat adalah inti hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta.