Jules Evans: Dari Krisis Mental ke Panggung Filsafat Dunia

Jules Evans
Sumber :
  • Cuplikan layar

Jakarta, WISATA — Nama Jules Evans kini dikenal luas sebagai penulis, peneliti, dan pembicara publik yang berhasil menghidupkan kembali filsafat Stoik dalam dunia modern. Namun, di balik reputasinya sebagai filsuf kontemporer, ada kisah pribadi yang dalam dan menyentuh: perjuangan melawan krisis mental yang hampir merenggut arah hidupnya.

img_title World Mental Health Day 2026 di Indonesia: Tema, Makna, dan Aksi Nyata Peduli Kesehatan Mental

Apa yang membedakan Evans dari banyak pemikir lain adalah kenyataan bahwa ia tidak menemukan filsafat di ruang kelas, tetapi dalam keputusasaan. Filsafat baginya bukan teori, melainkan obat jiwa yang datang ketika semua terapi konvensional belum mampu memberikan ketenangan yang ia cari.

Awal Mula: Dari Depresi ke Refleksi

img_title Manfaat Membaca untuk Kesehatan Otak dan Kesejahteraan Hidup

Pada usia muda, Evans mengalami gangguan kecemasan yang parah dan episode depresi yang membawanya ke titik nadir. Ia mencoba berbagai metode pemulihan: dari konseling hingga pengobatan medis. Namun yang benar-benar mengubah hidupnya adalah saat ia menyadari bahwa banyak teknik terapi kognitif perilaku (CBT) yang ia pelajari ternyata berakar dari Stoikisme—sebuah aliran filsafat Yunani Kuno.

Dari sinilah ia mulai menyelami pemikiran filsuf seperti Epiktetos, Seneca, dan Marcus Aurelius, dan menemukan panduan hidup yang praktis, membumi, serta menenangkan.

img_title Kisah Nabi Yunus dan Tanaman Labu: Hikmah Pertolongan Allah serta Manfaatnya bagi Kesehatan Mental

“Saya tidak datang ke filsafat karena ingin terlihat pintar. Saya datang karena ingin tetap waras,” tulis Evans dalam salah satu esainya.

Menulis Buku Transformasional: Philosophy for Life

Pada tahun 2012, Jules Evans menerbitkan Philosophy for Life and Other Dangerous Situations, buku yang mengubahnya dari seseorang yang mencari jawaban menjadi sosok yang membantu jutaan orang menemukan makna.

Buku ini bukan hanya mengulas filsafat secara akademik, tetapi mengaitkannya langsung dengan krisis kehidupan nyata—kecemasan, trauma, kegagalan, dan pencarian jati diri.

Ia memperkenalkan konsep-konsep seperti:

  • Premeditatio malorum (membayangkan kemungkinan buruk untuk memperkuat mental)
  • Dikotomi kendali (membedakan antara apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan)
  • Jurnal Stoik harian (melatih refleksi diri dan ketenangan)

Membangun Jembatan antara Filsafat dan Psikologi

Jules Evans tidak berhenti pada buku. Ia kemudian aktif sebagai:

  • Direktur proyek di Centre for the History of the Emotions di Queen Mary University of London
  • Pembicara di berbagai konferensi internasional tentang kesehatan mental, pengembangan diri, dan spiritualitas sekuler
  • Kontributor untuk media seperti The Guardian, BBC, dan TEDx, dengan pesan utama: “Filsafat kuno adalah cahaya yang tak padam untuk dunia modern.”
Halaman Selanjutnya
img_title