Seneca: Jika Ingin Dicintai, Cintailah

Seneca
Sumber :
  • Cuplikan layar

Jakarta, WISATA — “Jika ingin dicintai, cintailah.” Kutipan singkat dari filsuf Stoik Romawi kuno, Lucius Annaeus Seneca, kembali menjadi sorotan publik di tengah meningkatnya perbincangan soal krisis empati, kehampaan relasi sosial, serta meningkatnya individualisme di masyarakat modern.

img_title Kampung Pancasila Depok Jadi Ruang Kreatif Generasi Muda Sambut HUT RI ke-81

Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital namun terasa kian renggang secara emosional, pernyataan Seneca “If you wish to be loved, love” atau “Jika ingin dicintai, cintailah” menjadi seruan moral yang mengajak manusia untuk kembali kepada esensi dari relasi antarmanusia: cinta yang aktif, bukan pasif.

Cinta Bukan Sekadar Perasaan, Tapi Tindakan

img_title Balap Traktor Klaten, Tradisi Unik yang Mengubah Sawah Menjadi Arena Adu Cepat dan Menginspirasi Generasi Muda Bertani

Seneca menekankan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu atau diharapkan datang begitu saja. Cinta, dalam pandangannya, adalah sesuatu yang harus dipraktikkan. Dengan mencintai terlebih dahulu, seseorang membuka jalan bagi cinta untuk kembali kepadanya.

“Ini adalah filosofi yang sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang merasa kesepian dan tidak dicintai, padahal mereka sendiri belum mencoba untuk memberi cinta,” jelas Dr. Lina Setiadi, psikolog sosial dari Universitas Airlangga.

img_title Festival Dalang Cilik & Remaja Kartasura 2026, Wisata Budaya Gratis untuk Liburan Edukatif Keluarga

Ia menambahkan bahwa banyak relasi modern, baik dalam pertemanan, percintaan, maupun keluarga, dilandasi oleh ekspektasi untuk diterima dan dicintai, tetapi tidak diawali dengan keinginan untuk memberi. “Padahal cinta itu seperti tanaman. Ia tumbuh bukan hanya dengan harapan, tapi dengan perawatan, perhatian, dan ketulusan.”

Krisis Empati di Masyarakat Modern

Data dari survei yang dilakukan oleh lembaga riset global Gallup menunjukkan bahwa tingkat kesepian di kalangan masyarakat perkotaan meningkat hingga 25% dalam dua dekade terakhir. Salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya interaksi emosional yang mendalam di era serba cepat dan serba digital ini.

“Manusia makin sibuk dengan gawai, dengan pencitraan di media sosial, dan lupa bagaimana cara membangun relasi yang tulus. Dalam situasi seperti ini, ajakan Seneca untuk mencintai terlebih dahulu menjadi sangat penting,” kata Nenden Hapsari, aktivis komunitas solidaritas sosial di Jakarta.

Menurutnya, masyarakat kita butuh kembali menghidupkan budaya empati, gotong royong, dan kepedulian yang nyata. “Jangan hanya menunggu bantuan, mulailah membantu. Jangan hanya berharap dimengerti, mulailah memahami. Dari situlah cinta akan kembali,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title