Seneca: Jika Ingin Dicintai, Cintailah
- Cuplikan layar
Relevansi untuk Generasi Muda
Generasi muda saat ini tumbuh dalam iklim yang penuh tekanan sosial, kompetisi, dan kecenderungan untuk mencari validasi dari luar. Banyak di antara mereka merasa tidak cukup dicintai atau dihargai, meskipun memiliki banyak teman dan pengikut di media sosial.
“Seneca mengajarkan bahwa cinta bukanlah hasil, tetapi proses. Generasi muda perlu menyadari bahwa mereka tidak bisa sekadar menuntut cinta dan perhatian dari orang lain tanpa terlebih dahulu memberikan itu semua,” ujar Faisal Ardhi, pembina komunitas pemuda di Bandung.
Ia mencontohkan program mentoring yang dilakukannya setiap minggu, di mana anak muda belajar tentang komunikasi asertif, empati, dan cara menunjukkan kasih sayang dengan tindakan konkret.
“Setiap kali mereka belajar memberi perhatian tulus kepada orang lain—baik dengan mendengarkan, membantu, atau sekadar hadir—mereka juga menerima kembali cinta dalam bentuk yang tidak terduga.”
Cinta di Lingkungan Kerja dan Sosial
Pernyataan Seneca tidak hanya berlaku dalam relasi personal, tetapi juga dalam kehidupan profesional dan sosial. Di dunia kerja yang kompetitif dan kadang kaku, banyak organisasi mulai menerapkan pendekatan berbasis empati, seperti kepemimpinan inklusif, ruang ekspresi emosional, dan dukungan kesehatan mental.
“Budaya saling peduli menciptakan tempat kerja yang lebih sehat. Ketika atasan menunjukkan cinta dalam bentuk perhatian dan pengakuan, karyawan pun bekerja dengan hati,” ujar Rani Sujatmiko, konsultan SDM dari Jakarta.
Rani mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Tokopedia telah membuktikan bahwa budaya empati dan kasih sayang dapat meningkatkan produktivitas serta loyalitas pegawai.
Cinta Membuka Jalan untuk Kedamaian Sosial
Lebih dari sekadar relasi antarpribadi, cinta juga berperan dalam menciptakan harmoni sosial. Negara yang masyarakatnya dipenuhi oleh kasih sayang dan pengertian cenderung lebih damai, stabil, dan toleran.
“Jika kita ingin dicintai sebagai bangsa, kita harus belajar mencintai satu sama lain. Menerima perbedaan, membantu yang lemah, dan memberi ruang kepada semua lapisan masyarakat,” ujar Prof. Drajat Haryono, dosen filsafat dari Universitas Indonesia.
Ia mengutip Seneca sebagai simbol penting dari semangat untuk memulai perubahan dari diri sendiri. “Cinta yang besar lahir dari tindakan kecil. Dari sapaan, dari senyum, dari saling mendengarkan. Jika itu dilakukan terus menerus, akan menciptakan gelombang sosial yang kuat.”