Jaran Kepang Temanggung Tembus Pasar Mancanegara, Warisan Budaya Jadi Produk Bernilai Ekonomi
- infopublik.id
Temanggung, WISATA – Di tengah perkembangan industri kreatif, kesenian tradisional tidak selalu harus berhenti sebagai pertunjukan. Di Temanggung, Jawa Tengah, jaran kepang atau kuda lumping justru berkembang menjadi kerajinan bernilai ekonomi sekaligus menjadi cara untuk menjaga warisan budaya tetap hidup.
Hal tersebut terlihat dari aktivitas perajin di Sanggar Kandang Jaran, Dusun Kembang, Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Pada Senin (31/8/2026), perajin Supriwanto bersama istrinya menyelesaikan pembuatan kuda lumping yang dikerjakan secara manual. Kerajinan tersebut tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan kelompok kesenian, tetapi juga dikembangkan sebagai suvenir yang memiliki pasar hingga mancanegara.
Harga jaran kepang buatan perajin tersebut berkisar Rp600 ribu hingga Rp6 juta per buah. Perbedaan harga dipengaruhi ukuran, tingkat kerumitan, serta detail pengerjaan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa benda yang selama ini lekat dengan seni pertunjukan rakyat dapat bertransformasi menjadi produk ekonomi kreatif tanpa kehilangan karakter tradisionalnya.
Jaran kepang memiliki posisi penting dalam kehidupan budaya masyarakat Temanggung. Pemerintah Kabupaten Temanggung mencatat jaran kepang sebagai warisan budaya takbenda yang telah ditetapkan pada 2019. Kesenian ini juga tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional.
Keunikan jaran kepang Temanggung terlihat dari bentuk kudanya yang relatif kecil, kuat, dan kaku. Karakter visual tersebut menjadi salah satu pembeda dengan jaran kepang dari daerah lain. Proses pembuatannya pun membutuhkan keterampilan, mulai dari membentuk rangka, mengolah anyaman, hingga memberikan warna dan ornamen pada permukaan kuda.
Bagi wisatawan, keberadaan sanggar seperti Kandang Jaran dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya. Berkunjung ke sentra kerajinan memungkinkan wisatawan tidak hanya membeli suvenir, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sebuah properti seni tradisional dibuat oleh tangan perajin.
Pengalaman semacam ini dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi berbasis budaya. Pengunjung dapat mengenal bahan yang digunakan, proses pembuatan, karakter jaran kepang Temanggungan, hingga cerita yang melekat pada kesenian tersebut.
Transformasi jaran kepang menjadi suvenir juga membuka peluang bagi budaya lokal untuk dikenal oleh masyarakat di luar Temanggung, bahkan wisatawan mancanegara. Produk kerajinan membawa identitas daerah dalam bentuk yang lebih mudah dibawa pulang.