Mengungkap Warisan Abadi Immanuel Kant dalam Filosofi dan Etika Kontemporer
- Image Creator/Handoko
Jakarta, WISATA - Immanuel Kant bukan hanya dikenal sebagai filsuf besar yang menghidupkan pemikiran rasional di abad ke-18, tetapi juga sebagai tokoh yang warisannya terus memengaruhi berbagai disiplin ilmu hingga abad ke-21. Pemikiran Kant dalam hal etika, pengetahuan, dan moralitas telah mewarnai cara kita memahami hubungan manusia dengan diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
Teori Etika Kant: Prinsip Kewajiban
Filosofi etika Kant berpusat pada gagasan bahwa moralitas berasal dari prinsip kewajiban yang tak bergantung pada konsekuensi dari tindakan. Kant menekankan bahwa tindakan yang dilakukan secara moral harus didasarkan pada kewajiban yang diilhami oleh imperatif kategoris, bukan oleh hasil yang diharapkan. Hal ini memberi dasar bagi teori etika deontologi, yang mengutamakan niat dan kewajiban di atas hasil.
Kant dalam Perspektif Epistemologi: Paradigma Baru dalam Pengetahuan
Dalam kajian pengetahuan, Kant menolak pandangan empiris murni yang menganggap bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi. Ia menyatakan bahwa ada bentuk pengetahuan yang bersifat a priori, yang berasal dari struktur pikiran manusia itu sendiri, seperti kategori ruang, waktu, dan sebab-akibat. Ini mengarah pada pemahaman bahwa pengetahuan adalah kombinasi antara data empiris dan struktur mental yang melekat dalam akal.
Relevansi Kant dalam Filsafat Kontemporer
Hari ini, banyak ahli filsafat dan ilmuwan yang masih merujuk pada ide-ide Kant, terutama dalam bidang etika terapan dan teori moral. Misalnya, ketika membahas etika dalam teknologi seperti pengembangan AI, prinsip imperatif kategoris memberikan kerangka untuk mengevaluasi apakah tindakan yang dilakukan oleh mesin dapat dipertanggungjawabkan secara moral.