Plato Murid Socrates - "Cinta adalah Pencarian Akan Separuh yang Hilang"

Plato (ilustrasi)
Sumber :
  • Image creator Bing/ Handoko

Malang, WISATA - Plato, filsuf besar Yunani kuno dan murid dari Socrates, memberikan banyak pandangan mendalam tentang cinta dalam karyanya. Salah satu konsep yang paling terkenal adalah gagasan bahwa cinta adalah pencarian akan separuh yang hilang. Pandangan ini dijelaskan dalam dialognya yang terkenal, "Symposium". Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi pemikiran Plato tentang cinta sebagai pencarian akan separuh yang hilang, serta relevansinya dalam kehidupan modern. Pandangan Plato ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang hakikat cinta tetapi juga menawarkan panduan untuk mencari dan memahami cinta sejati.

Gemes Banget! Chae Jong-Hyeop dan Kim So-Hyun Malu Baca Naskah Romantis ‘Serendipity's Embrace’

Asal Usul Konsep Cinta menurut Plato

Dalam "Symposium," Plato mengisahkan mitos asal usul manusia melalui tokoh Aristophanes. Menurut mitos ini, manusia pada awalnya adalah makhluk yang utuh dengan empat lengan, empat kaki, dan dua wajah. Karena kekuatan dan kesombongannya, Zeus, raja para dewa, memutuskan untuk memisahkan manusia menjadi dua bagian. Sejak saat itu, setiap manusia menjadi separuh yang terpisah, selalu mencari separuh lainnya untuk kembali menjadi utuh.

Plato: "Keadilan Tidak Berasal dari Hukum, tetapi dari Watak Manusia"

Cinta sebagai Pencarian akan Separuh yang Hilang

Menurut Plato, cinta (eros) adalah dorongan yang mendalam dalam diri manusia untuk menemukan separuhnya yang hilang. Cinta bukan hanya tentang ketertarikan fisik, tetapi juga tentang pencarian akan kesatuan dan keutuhan. Ketika seseorang menemukan separuh yang hilang, mereka merasa lengkap dan utuh kembali.

Plato: "Keadilan Berarti Melakukan Tugas Anda dan Tidak Mencampuri Urusan Orang Lain"

Tahapan dalam Pencarian Cinta Sejati

1.    Ketertarikan Fisik:

Halaman Selanjutnya
img_title