Hari Serigala Internasional 2025: Menghormati Peran Penting Predator

Kawanan Serigala
Sumber :
  • Alpha Coders

Malang, WISATA – Pada 13 Agustus, dunia mengalihkan perhatiannya kepada salah satu makhluk alam yang paling disalahpahami: serigala. Selama berabad-abad, serigala telah diburu, ditakuti dan diusir dari tanah mereka.

img_title Menjaga Masa Depan Gajah di Tengah Tantangan Zaman

Namun, serigala bukan sekadar predator, mereka memainkan peran penting dalam menyeimbangkan dan memelihara ekosistem. Pada pertengahan tahun 90-an, serigala kembali ke Yellowstone. Jumlah rusa menurun, tekanan penggembalaan berkurang dan vegetasi mulai pulih.

Sebuah studi selama 20 tahun di 25 lokasi tepi sungai menunjukkan betapa dramatisnya perubahan tersebut: volume tajuk pohon willow meningkat sebesar 1.500 persen. "Temuan kami menekankan kekuatan predator sebagai arsitek ekosistem," kata William Ripple dari Oregon State University.

img_title Bukti Genetis Terbaru: Sebagian Besar Anjing Modern Mewarisi DNA Serigala Melalui Kawin Silang yang Belum Lama Terjadi.

Dengan berkurangnya aktivitas berburu rusa elk, pohon willow, aspen dan semak beri pun tumbuh subur. Burung, berang-berang dan serangga pun diuntungkan. Reaksi berantai ini disebut kaskade trofik dan yang terjadi di Yellowstone termasuk yang terkuat yang pernah tercatat di dunia.

Dilansir dari earth.com, pada awal 1930-an, serigala telah punah di sebagian besar wilayah Amerika Barat. Perburuan, penjebakan dan program pengendalian predator pemerintah telah mengusir serigala dari lanskap yang telah mereka bentuk selama ribuan tahun.

img_title Spesies Pulau yang Terancam Punah Kembali setelah Sejumlah Besar Predator Disingkirkan

Tanpa serigala untuk mengendalikan jumlah herbivora, kawanan rusa besar berkembang pesat dan menetap di satu tempat lebih lama. Mereka merumput tanaman muda tanpa henti, merampas pohon willow, aspen dan vegetasi lainnya di sepanjang sungai dan anak sungai.

Zona riparian ini mulai menyusut dan kehilangan keanekaragaman hayati. Tanpa tanaman sehat yang menopang tanah, tepian sungai terkikis. Serangga, burung dan mamalia yang bergantung pada habitat tersebut pun menurun.

Tepi hutan juga terdampak. Pohon-pohon muda tidak dapat bertahan hidup dari aktivitas penjelajahan yang intensif dan, seiring waktu, hutan menjadi lebih tipis dan kurang mampu mendukung kehidupan satwa liar.

Hal ini disebut sebagai 'pergeseran garis dasar'. Hal ini terjadi ketika kita lupa atau tidak pernah tahu, seperti apa ekosistem yang sehat dulu. Setiap generasi tumbuh besar dengan melihat lanskap yang terdegradasi dan menganggapnya normal.

Rasa normal yang salah ini dapat menyesatkan perencanaan konservasi, karena keputusan dibuat tanpa memahami kekayaan yang telah hilang.

Halaman Selanjutnya
img_title