Antara Taat dan Merdeka: Perjuangan Kartini Mendobrak Dinding Adat demi Perempuan
- Bicara Tokoh
Jepara, WISATA – Tulisan ini disusun berdasarkan esai kenangan pribadi karya Marie Ovink‑Soer tentang Raden Adjeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan Jawa. Marie Ovink‑Soer adalah seorang wanita Belanda yang mengenal Kartini secara dekat ketika tinggal di Jepara. Dalam tulisannya, Marie menceritakan pengalaman pribadi, pengamatan, dan interaksinya selama tujuh tahun bersama Kartini dan keluarganya, yang memberi gambaran mendalam tentang pemikiran, perjuangan, dan karakter Kartini dalam konteks budaya Jawa kala itu. Artikel ini merupakan bagian kelima dari rangkaian sepuluh seri berita bersambung.
Konteks Adat Jawa dan Peran Perempuan
Di akhir abad ke‑19, masyarakat Jawa—terutama kalangan priyayi—memegang teguh adat yang menempatkan perempuan dalam peran domestik dan subordinat. Perempuan diharapkan taat, sopan, dan tidak menggugat keputusan keluarga. Mereka menghabiskan hari dengan merajut, membatik, atau menjalankan tugas rumah tangga, tanpa akses ke pendidikan formal. Sedangkan laki‑laki bebas menuntut ilmu di sekolah pemerintah atau pesantren, serta memiliki ruang gerak publik yang luas. Dalam bingkai inilah Kartini dilahirkan, tumbuh, dan kemudian berusaha menemukan jalan agar perempuan tidak selamanya terkungkung.
Dilema Kartini: Taat pada Adat, Rindu Kebebasan
Kartini muda merasakan dua kekuatan besar: ketaatan pada orang tua dan adat, serta kerinduan akan kebebasan berpikir dan berkarya. Di satu sisi, ia mencintai keluarga—ayah, ibu, dan adik‑adik perempuannya—yang telah menjaganya dengan penuh kasih. Di sisi lain, ia merasakan kegelisahan melihat teman‑temannya dipaksa menikah tanpa pilihan, dan dilarang membaca buku atau menuliskan pendapat.
“Aku dilahirkan dalam rumah bertembok tinggi,” tulis Kartini kepada Marie, “namun batinku terus menggapai dunia di luar tembok itu.”
Dilema ini memantik semangat Kartini untuk mencari celah perubahan: bagaimana memenuhi kewajiban keluarga, tetapi sekaligus menunaikan panggilan hati untuk menuntut ilmu dan menyuarakan hak perempuan.
Strategi Mendobrak Batas: Pendidikan dan Persahabatan
Kartini menyadari bahwa tantangan terbesar adalah sistem—adanya hukum tak tertulis yang mengekang perempuan pribumi. Ia merangkai strategi lembut untuk mendobrak batas:
1. Belajar secara mandiri
Meskipun sekolah formal tertutup, Kartini meminta “kamar kecil” di rumah Regent sebagai ruang studi. Di sana, ia membaca buku sastra Belanda, menulis surat, dan mengundang Marie berkunjung untuk berdiskusi.
2. Memperluas jaringan
Melalui surat, Kartini terhubung dengan organisasi “Jong Java” dan tokoh intelektual Hindia Belanda. Surat‑surat itu memantik minat generasi muda Jawa untuk memikirkan pembaruan.
3. Mendiri dalam batas adat
Alih‑alih langsung menentang adat pernikahan dan desa, Kartini membentuk “sekolah kecil” informal di kaboepaten. Ia mengajak adik‑adik dan teman perempuannya belajar menulis, berdiskusi, dan menanyakan tentang peran perempuan.
Melalui kombinasi pendidikan dan persahabatan lintas budaya, Kartini mampu memperluas ruang geraknya meski secara fisik masih terkungkung di Jepara.
Taktik Lembut: Negosiasi dengan Keluarga
Kartini tidak melakukan pemberontakan keras. Ia memahami perasaan orang tua dan menghargai adat. Namun, ia juga berani melakukan negosiasi halus:
- Pendekatan logis
Kartini menulis proposal singkat kepada ayahnya, Regent Jepara, memaparkan manfaat pendidikan bagi perempuan priyayi—misalnya: menjadi guru, mendidik anak bangsa, dan memperkuat keluarga. - Sabar dan hormat
Setiap kali mendiskusikan kebebasan belajar, ia selalu menggunakan bahasa sopan dan menegaskan rasa hormat kepada adat. Sikap lembut ini membuat Regent akhirnya luluh memberikan izin terbatas. - Bukti nyata
Kartini menunjukkan kemajuan belajarnya: surat‑suratnya semakin terstruktur, dan ia mampu menjelaskan literatur Barat dalam diskusi bersama Marie dan keluarga priyayi lainnya.
Hasilnya, meski tidak diizinkan mengikuti sekolah formal, Kartini mendapat pendampingan guru Belanda di rumahnya—langkah kecil yang membuka pintu perubahan lebih besar.
Tuntutan Emansipasi: Surat, Sekolah, dan Debat Publik
Sebagai medium protes tertulis, surat Kartini berisi seruan emansipasi yang lugas:
“Mengapa perempuan Jawa tidak memiliki hak belajar seperti laki‑laki? Pendidikan bukan hak istimewa, melainkan kebutuhan setiap insan.”
Surat‑surat tersebut kemudian dihimpun menjadi buku Door Duisternis tot Licht, yang memperkenalkan ide Kartini kepada kalangan luas. Dampaknya:
1. Pembentukan Kartini‑fonds di Belanda
Melalui dana ini, sekolah perempuan didirikan di Jepara, Rembang, dan kota‑kota lain.
2. Debat publik
Surat‑surat Kartini memantik diskusi di surat kabar Hindia Belanda tentang hak perempuan, poligami, dan perjodohan.
3. Kebijakan pemerintah
Pada 1913 dan 1918, Pemerintah Hindia Belanda membuka kweekschool (sekolah guru) perempuan pribumi, serta normaalschool untuk calon guru bahasa Belanda.
Lewat pendidikan dan debat, Kartini—meski wafat muda—menancapkan gagasan emansipasi ke dalam tubuh masyarakat Jawa.
Dampak Awal: Tumbuhnya Kesadaran Perempuan Jawa
Hasil perjuangan Kartini mulai terlihat dalam dekade pertama abad ke‑20:
- Semarak sekolah perempuan
Puluhan siswi priyayi dan rakyat kecil berani mendaftar ke Kartini‑scholen. Mereka belajar membaca, menulis, dan memahami sains dasar. - Organisasi wanita
Kelompok perempuan di kota‑kota Jawa membentuk perkumpulan, membahas literasi, kesehatan, dan hak perdata. - Perubahan sikap keluarga
Beberapa ayah dan suami mulai mempersilakan istri dan putri mereka sekolah, terinspirasi cerita keberhasilan Kartini.
Perubahan ini masih terbatas pada lingkungan tertentu, tetapi sebagai fase awal, Kartini berhasil menumbuhkan kesadaran bahwa perempuan Jawa juga manusia dengan hak dan potensi yang sama.
Refleksi Marie Ovink‑Soer: Kesetiaan dan Keberanian Kartini
Marie Ovink‑Soer, sahabat dekat Kartini, mengenang:
“Kartini adalah perpaduan unik antara rasa hormat pada adat dan keberanian menuntut kebebasan. Ia tidak memberontak secara kasar, melainkan memikat hati orang tua dan masyarakat dengan argumen yang halus namun tak tergoyahkan.”
Marie menegaskan bahwa kombinasi antara ketaatan dan kebebasan itu menjadi kekuatan Kartini dalam meretas dinding adat. Ia tidak mengabaikan akar budaya, tetapi berupaya mereformasi dari dalam.
Kesimpulan: Warisan Antara Taat dan Merdeka
Perjuangan Kartini membuktikan bahwa ketaatan pada nilai luhur budaya dan kerinduan akan kebebasan berpikir bukanlah dua kutub yang tak bisa dipersatukan. Lewat taktik lembut, pendidikan mandiri, dan jaringan persahabatan lintas budaya, Kartini membuka celah perubahan bagi perempuan Jawa.
Warisan inilah yang kemudian diwadahi oleh generasi penerus—mulai dari Kartini‑fonds hingga sekolah guru perempuan—dan terus hidup hingga hari ini sebagai tonggak sejarah emansipasi perempuan di Indonesia.