Pemimpin di Tengah Derita: James Stockdale dan Filosofi Epictetus dalam Perang Vietnam

James Stockdale dan Pengenalan Stoicisme
Sumber :
  • Image Creator Grok/Handoko

Jakarta, WISATA - Perang bukan hanya ujian bagi kekuatan fisik, tetapi juga bagi ketahanan mental. Salah satu tokoh yang menjadi bukti nyata bagaimana ketangguhan mental bisa menjadi senjata paling ampuh adalah James Stockdale. Sebagai perwira Angkatan Laut Amerika Serikat, Stockdale menghadapi lebih dari tujuh tahun penderitaan sebagai tahanan perang di kamp Vietnam Utara yang terkenal kejam, "Hanoi Hilton." Namun, bukan persenjataan atau kekuatan militer yang membuatnya bertahan, melainkan filosofi Stoicisme yang dia pelajari dari filsuf kuno Epictetus.

Mengapa Stoicisme Pierre Hadot Relevan di Dunia yang Penuh Stres?

Misi Berbahaya yang Berujung Penahanan

James Stockdale adalah komandan skuadron tempur yang menjalankan misi berisiko tinggi di atas langit Vietnam. Pada 9 September 1965, nasibnya berubah drastis ketika pesawatnya ditembak jatuh oleh pasukan Vietnam Utara. Ia berhasil melontarkan diri dari pesawat, tetapi segera ditangkap dan dijebloskan ke penjara yang penuh dengan penyiksaan dan penderitaan.

Pierre Hadot dan Filosofi Sebagai Cara Hidup: Panduan Menjadi Stoik Modern

Sebagai perwira berpangkat tinggi, Stockdale menjadi target utama bagi penyiksanya. Ia mengalami perlakuan brutal, mulai dari siksaan fisik hingga isolasi dalam sel kecil yang gelap. Namun, di tengah derita itu, ia tetap teguh berpegang pada prinsip-prinsip Stoicisme, yang membantunya bertahan dari kehancuran mental.

Filosofi Epictetus sebagai Perisai Mental

Jejak Kebijaksanaan: Pelajaran Hidup dari Plato, Buddha, Rumi, dan Sunan Kalijaga

Sebelum berangkat ke medan perang, Stockdale telah mempelajari Stoicisme, khususnya ajaran Epictetus yang menekankan bahwa manusia tidak dapat mengontrol apa yang terjadi kepadanya, tetapi dapat mengendalikan cara meresponsnya. Filosofi ini menjadi pijakan utamanya untuk bertahan.

Stockdale menolak menjadi korban keadaan. Ia memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup, tetapi bagaimana ia merespons penderitaan itulah yang menentukan nasibnya. Ia menolak untuk tunduk kepada musuh dan berusaha menjaga moral para tahanan lain dengan berbagai cara, termasuk dengan menciptakan sistem komunikasi rahasia agar mereka tetap terhubung dan tidak merasa sendirian.

Halaman Selanjutnya
img_title