Lempeng Batu Pulau Wetar: Jejak Lukisan Purba Migrasi Austronesia
- wyomingnews.com
Kota Ambon, WISATA – Penemuan lempeng batu Pulau Wetar berusia 4.000 tahun mengungkap bukti baru tradisi lukis kuno dan simbolik migrasi penutur Austronesia di Pasifik.
Para arkeolog kembali menemukan fakta mencengangkan di wilayah Indonesia timur. Sebuah lempeng batu lukis berusia sekitar 4.000 tahun berhasil ditemukan di ceruk payung Huknaur, Pulau Wetar. Artefak langka berukuran kecil ini ditemukan oleh tim gabungan peneliti internasional dari The Australian National University bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penemuan ini memberikan bukti konkret mengenai awal mula migrasi serta penyebaran budaya masyarakat penutur bahasa Austronesia di kawasan Samudra Pasifik.
Keunikan lempeng batu Pulau Wetar ini terletak pada guratan pola konsentris berwarna merah dengan garis pancaran sinar yang menyebar ke luar. Motif ini dikenal sebagai contoh klasik dari Austronesian Painting Tradition (APT). Berbeda dari lukisan dinding gua atau dinding batu yang tidak bisa dipindahkan, artefak ini menjadi bukti arkeologis pertama bahwa simbol seni bernilai religius ini juga dibawa pada benda portabel oleh para pelaut kuno.
Pertanggalan Karbon Membuka Tabir Sejarah Sejati
Metode penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa batu lukis ini berasal dari masa 4.090 hingga 3.900 tahun lalu. Posisi stratigrafi penemuan berada pada lapisan transisi dari era Paleolitikum menuju Neolitikum. Menariknya, lapisan tersebut belum memuat sisa-sisa tembikar. Hal ini mematahkan anggapan lama bahwa seni tradisi APT baru berkembang jauh belakangan pada Perundagian atau Zaman Logam. Hasil studi dari penemuan lempeng batu Pulau Wetar yang terbit dalam jurnal sains Proceedings of the National Academy of Sciences ini membuktikan bahwa estetika visual tersebut sudah muncul sejak awal ekspansi migrasi.
Simbolisme dan Identitas Budaya Pelaut Kuno
Lokasi penggalian di Pulau Wetar menegaskan bahwa jaringan pertukaran maritim telah menghubungkan pulau-pulau di kawasan Wallacea selatan sejak ribuan tahun lalu. Selain batu lukis, peneliti juga menemukan manik-manik khas kelompok Austronesia. Motif pancaran sinar matahari berwarna merah diduga berfungsi sebagai penanda identitas kelompok atau jimat pelindung selama melaut. Penemuan ini membuktikan bahwa penjelajahan samudra tak hanya berbekal alat dan bahan pangan, tetapi juga membawa simbol budaya dan kepercayaan bersama mereka.