Menyelamatkan Polinator Liar Demi Menjaga Ketahanan Pangan Global
- yesmagazine.org
Malang, WISATA – Penurunan drastis populasi polinator liar di Eropa mengancam rantai pasok ekonomi dan ketahanan pangan global, memicu alarm bahaya bagi ekosistem kita.
Ketika mendengar kata penyerbuk atau polinator, hal pertama yang terlintas di pikiran kita biasanya adalah lebah madu yang sibuk terbang di antara bunga-bunga. Namun, tahukah Anda bahwa dunia sains saat ini sedang menghadapi kecemasan besar terkait kelangsungan hidup serangga-serangga penting ini? Berdasarkan sebuah dokumen ilmiah terbaru berbentuk White Paper yang dirilis oleh delapan konsorsium riset besar yang didanai Uni Eropa, populasi polinator liar kini sedang mengalami penurunan yang sangat drastis di seluruh benua Eropa. Dampak dari krisis lingkungan ini ternyata tidak sesederhana tentang berkurangnya produksi madu atau hilangnya bunga-bunga cantik di taman, melainkan sebuah ancaman nyata bagi ketahanan pangan global serta stabilitas seluruh ekosistem bumi.
Dokumen penting ini disusun oleh tim interdisipliner yang terdiri dari 135 peneliti terkemuka dari berbagai bidang keilmuan. Mulai dari ekologi ekosistem, sains polinator, ekonomi ekologis, ilmu sosial, sejarah lingkungan, psikologi perilaku, ilmu politik, hingga hukum lingkungan turut bersatu demi membedah masalah ini. Laporan yang dikoordinasikan oleh ilmuwan Jeroen van der Sluijs ini dipublikasikan secara resmi melalui jaringan publikasi ilmiah independen Uni Eropa, CORDIS, guna memberikan peringatan keras kepada publik dan para pembuat kebijakan.
Lebih dari Sekadar Lebah dan Madu
Selama ini, argumen ekonomi yang digaungkan untuk melindungi polinator liar selalu dikaitkan secara sempit dengan produksi pangan manusia. Logikanya sederhana: serangga menyerbuki tanaman, tanaman menghasilkan bahan pangan, dan manusia bisa makan. Pandangan ini memang tidak salah, namun sangat tidak lengkap. Faktanya, tanaman berbunga yang hidupnya bergantung penuh pada proses penyerbukan alami merupakan fondasi utama bagi berbagai sektor industri penting di dunia.
Industri-industri yang ikut terancam akibat hilangnya polinator liar ini meliputi sektor tanaman obat, suplemen makanan, tanaman energi biomassa, biomaterial, tekstil, pakan ternak, kosmetik, dekorasi, hingga sektor pariwisata. Proses penyerbukan alami sejatinya telah tertanam kuat di dalam rantai pasok global yang jarang disadari oleh masyarakat modern. Ketika serangga penyerbuk ini lenyap, efek domino ekonominya akan memukul berbagai sektor industri tersebut secara telak.