Hadapi Kekeringan 2026, Kementan Percepat Tanam Padi di 10 Provinsi Demi Jaga Ketahanan Pangan Nasional
- Vision. org
Jakarta, WISATA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas produksi padi nasional di tengah tantangan perubahan iklim yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026. Salah satu fokus utama pemerintah adalah memastikan ketersediaan beras tetap terjaga meskipun sejumlah wilayah berpotensi mengalami penurunan pasokan air akibat musim kemarau.
Sebagai upaya mitigasi, percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi pada periode Juni hingga September 2026 menjadi strategi yang diprioritaskan. Langkah tersebut dinilai penting karena rentang waktu tersebut identik dengan meningkatnya risiko kekeringan di berbagai sentra pertanian.
Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian yang juga menjabat sebagai Pelaksana Harian Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Irham Warohian, menegaskan bahwa perluasan areal tanam harus dilakukan secara terencana dan melibatkan seluruh pihak terkait. Menurutnya, koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan para pemangku kepentingan akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga produksi padi nasional. Dengan percepatan tanam yang tepat sasaran, kebutuhan pangan masyarakat diyakini tetap dapat dipenuhi.
Pemerintah pun memusatkan perhatian pada sepuluh provinsi yang selama ini menjadi tulang punggung produksi beras nasional. Wilayah tersebut meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan. Kontribusi besar daerah-daerah tersebut terhadap pasokan beras nasional membuatnya menjadi prioritas dalam program pengamanan produksi.
Untuk mendukung target tersebut, Kementan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga, hingga TNI dan instansi teknis lainnya. Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga terus dioptimalkan agar petani mendapatkan pendampingan yang maksimal di lapangan.
Tak hanya itu, pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pertanian, menggencarkan Gerakan Tanam (Gertam), serta mengevaluasi distribusi pupuk bersubsidi agar kebutuhan petani terpenuhi secara tepat waktu dan tepat sasaran.
Menghadapi ancaman kekeringan, Kementan turut melakukan pemetaan wilayah rawan terdampak serta memperkuat sistem peringatan dini. Berbagai infrastruktur pendukung sumber daya air juga terus dioptimalkan, seperti rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, pembangunan sumur dangkal, pompanisasi, perpipaan, hingga penggunaan sumber air alternatif lainnya.