Menguak Tabir Sejarah: Apakah Benar Ada Samurai Wanita di Jepang?

Samurai Wanita
Sumber :
  • rarehistoricalphotos.com

Jejak Perlawanan Pasukan Joshigun dan Nakano Takeko

img_title Padangan Bojonegoro, Kota Tua di Tepian Bengawan Solo yang Punya Sejarah Panjang

Salah satu bukti paling kuat mengenai aksi samurai wanita di medan perang muncul pada akhir abad ke-19, tepat sebelum kelas samurai dihapuskan secara resmi. Selama Perang Boshin yang berlangsung antara tahun 1868 hingga 1869, Jepang dilanda perang saudara antara pendukung Keshogunan Tokugawa melawan pasukan pendukung Kaisar. Di tengah gejolak ini, wilayah Aizu di Jepang utara menjadi saksi keberanian sebuah unit militer unik bernama Joshigun.

Unit Joshigun atau 'Pasukan Wanita' ini dipimpin secara tidak resmi oleh seorang wanita muda berusia 22 tahun bernama Nakano Takeko. Mereka bersenjatakan pedang dan naginata, sebuah senjata galah dengan bilah melengkung yang sangat efektif untuk menusuk maupun menebas. Dalam pertempuran di jembatan Yanagi, Takeko dikabarkan berhasil menumbangkan lima hingga enam musuh sebelum akhirnya gugur terkena tembakan peluru. Keberanian kelompok ini menunjukkan bahwa ketika keadaan mendesak, para wanita samurai ini tidak ragu untuk mengangkat senjata demi membela klan mereka.

img_title Ilmuwan Jepang Habiskan 20 Tahun Buktikan Hutan Bisa Redakan Stres dan Perkuat Imun Tubuh Anda

Bukti Arkeologis dan Misteri di Gundukan Numazu

Selain catatan tertulis, bukti fisik berupa sisa-sisa kerangka manusia juga memberikan petunjuk menarik. Di kota Numazu, Jepang tengah, terdapat sebuah gundukan tanah yang berisi sisa-sisa kerangka dari sekitar 105 orang yang tewas dalam pertempuran abad ke-16, kemungkinan besar saat Pertempuran Senbonhama. Analisis antropologi yang diterbitkan dalam Journal of Anthropology pada tahun 1989 mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar sepertiga dari kerangka tersebut adalah perempuan.

img_title Museum Nasional Indonesia Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Sejarah, Ada Pengalaman Imersif yang Bikin Betah

Thomas Conlan, profesor sejarah Jepang abad pertengahan dari Princeton University, berpendapat bahwa penemuan ini menjadi indikator kuat bahwa perempuan di usia produktif turut bertempur dan gugur dalam peperangan abad ke-16. Meski demikian, beberapa sejarawan lain tetap bersikap hati-hati. Mereka berpendapat bahwa ada kemungkinan wanita-wanita tersebut adalah non-kombatan yang ikut terbunuh dalam kekacauan perang, bukan prajurit yang secara sengaja menyerang musuh di medan terbuka.

Legenda Tomoe Gozen dan Pelatihan Bela Diri Tradisional

Budaya Jepang sangat kaya akan kisah heroik wanita perkasa, dan yang paling terkenal adalah Tomoe Gozen dari akhir abad ke-12. Dalam karya sastra klasik The Tale of the Heike, Tomoe digambarkan sebagai petarung yang setara dengan seribu pria biasa. Ia dikisahkan sangat mahir menggunakan busur yang paling kuat dan selalu siap menghadapi dewa maupun iblis dengan pedangnya baik saat menunggang kuda maupun berjalan kaki. Sosok lain yang tak kalah melegenda adalah Ohori Tsuruhime yang dikenal sebagai 'Joan of Arc dari Jepang' karena keberaniannya memimpin pertahanan pulau Omishima di usia 16 tahun.

Halaman Selanjutnya
img_title