7 Cara Stoikisme Bisa Membantu Kamu Lebih Tahan Mental
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — Hidup di zaman yang penuh tekanan, informasi tak henti, dan ekspektasi sosial yang terus meningkat membuat banyak orang mudah stres, cemas, bahkan kehilangan arah. Di tengah kekacauan ini, filsafat kuno Stoikisme justru kembali naik daun. Salah satu tokoh yang memopulerkan kembali Stoikisme dalam bahasa modern adalah Jules Evans, penulis buku Philosophy for Life and Other Dangerous Situations.
Evans percaya bahwa Stoikisme bukan hanya ide tua dari Yunani Kuno, tetapi alat praktis untuk membangun ketangguhan mental di dunia yang rapuh secara emosional. Berikut adalah tujuh cara Stoikisme bisa membantu kamu menjadi lebih tangguh secara psikologis dan emosional.
1. Memisahkan Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Kamu Kendalikan
Prinsip paling dasar Stoikisme adalah membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendalimu dan yang tidak. Ketika kamu belajar hanya fokus pada apa yang bisa kamu ubah—pikiran, tindakan, reaksi—kamu akan merasa lebih damai dan tidak mudah goyah oleh keadaan eksternal.
Menurut Evans, kebahagiaan sejati bukan soal dunia di luar, tetapi soal bagaimana kamu memandang dan meresponsnya.
2. Melatih Ketahanan lewat Premeditatio Malorum
Stoikisme mengajarkan latihan mental bernama premeditatio malorum, yaitu membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi. Bukan untuk membuat cemas, tetapi untuk memperkuat mental sebelum hal buruk benar-benar terjadi.
Dengan cara ini, kamu tidak hanya lebih siap, tapi juga lebih tenang saat menghadapi kenyataan.
3. Mengamati dan Mengelola Emosi
Stoikisme tidak mengajarkan untuk menekan emosi, tetapi untuk mengamati emosi dengan jernih, lalu memutuskan bagaimana akan meresponsnya. Emosi tidak diabaikan, tapi dipahami dan diarahkan.
Evans menulis bahwa banyak teknik dalam terapi modern seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) diilhami dari prinsip Stoik ini, yaitu berpikir sebelum bereaksi, dan tidak dikendalikan oleh amarah atau ketakutan.
4. Menemukan Kekuatan dalam Keheningan Batin
Dalam dunia yang penuh kegaduhan, Stoikisme mengajarkan pentingnya diam, refleksi, dan ruang batin yang tenang. Jules Evans menyebut keheningan batin sebagai "kekuatan super" modern—karena orang yang bisa tetap tenang di tengah keramaian justru adalah orang yang paling kuat.