Albert Camus: “When the Soul Suffers Too Much, It Develops a Taste for Misfortune”

Albert Camus
Sumber :
  • Cuplikan layar

"When the soul suffers too much, it develops a taste for misfortune."
Albert Camus

img_title 10 Novel Filsafat Ini Bawa Sobat Wisata Viva 'Piknik' ke Alam Pikiran, dari Sophie's World sampai 1984

Jakarta, WISATA - Apa yang terjadi ketika jiwa manusia terlalu sering disakiti? Mengapa ada orang yang tampak “terbiasa menderita,” bahkan seolah mulai mencari atau menikmati penderitaan itu sendiri? Albert Camus, filsuf Prancis yang dikenal karena pemikirannya tentang absurditas dan eksistensi manusia, memberikan pandangan yang tajam dan mengejutkan: jiwa yang terlalu sering menderita bisa mengembangkan rasa suka terhadap kemalangan.

Pernyataan Camus ini membuka ruang diskusi yang dalam. Tidak hanya soal rasa sakit dan penderitaan, tetapi juga bagaimana manusia — dengan segala kerentanannya — bisa terperangkap dalam pola rasa sakit yang berulang, dan pada titik tertentu, menemukan kenyamanan aneh dalam penderitaan itu sendiri.

img_title Rahasia Hidup Sederhana ala The Subtle Art of Not Giving a Fck*: Pilih Masalah yang Layak Diperjuangkan

Penderitaan sebagai Kebiasaan

Ketika seseorang menghadapi penderitaan terus-menerus, jiwa akan mencari cara bertahan. Dalam psikologi, ini disebut sebagai mekanisme adaptasi. Namun, terkadang mekanisme ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks: rasa familiar terhadap penderitaan.

img_title Rahasia Hidup Bahagia ala The Subtle Art of Not Giving a Fck*: Menyelesaikan Masalah, Bukan Menghindarinya

Penderitaan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu membuat seseorang merasa “aman” di dalam rasa sakit. Mereka tahu bagaimana rasanya dikhianati, ditinggalkan, gagal, atau merasa tidak berharga — dan karena itu, mereka tahu bagaimana bertahan. Sebaliknya, ketika kebahagiaan datang, mereka justru gelisah. Mereka merasa asing terhadap kedamaian, bahkan curiga akan datangnya malapetaka baru. Inilah yang dimaksud Camus dengan jiwa yang "mengembangkan selera terhadap kemalangan".

Menikmati Derita, Bukan Karena Masokisme

Perlu digarisbawahi bahwa “menikmati kemalangan” di sini bukanlah masokisme dalam arti klinis. Ini lebih kepada kondisi eksistensial — sebuah keterikatan emosional terhadap rasa sakit yang lahir dari pengulangan dan keterbiasaan. Jiwa tidak benar-benar senang menderita, tetapi ia merasa lebih aman dalam penderitaan karena itu adalah satu-satunya dunia yang ia kenal.

Albert Camus sendiri, dalam karya-karyanya seperti The Plague dan The Myth of Sisyphus, sering mengangkat tokoh-tokoh yang berada dalam penderitaan yang tidak masuk akal. Mereka tidak menyerah, tetapi juga tidak berharap. Mereka memilih untuk bertahan, bahkan ketika harapan tampak mustahil. Camus mengajak kita untuk menghadapi realitas sebagaimana adanya, termasuk penderitaan, tanpa berpura-pura atau melarikan diri.

Halaman Selanjutnya
img_title