10 Novel Filsafat Ini Bawa Sobat Wisata Viva 'Piknik' ke Alam Pikiran, dari Sophie's World sampai 1984
- Gramedia
Malang, WISATA - Sobat Wisata Viva, siapa bilang liburan harus selalu identik dengan tiket pesawat dan koper besar? Kadang, perjalanan paling jauh justru bisa ditempuh sambil duduk santai di teras rumah, ditemani secangkir kopi, dan sebuah buku di tangan. Ya, membaca novel filsafat adalah salah satu bentuk "wisata batin" yang murah meriah namun dampaknya luar biasa. Lewat lembaran cerita, pembaca diajak berkelana menembus lorong waktu sejarah pemikiran manusia, dari zaman Yunani kuno hingga era distopia modern.
Berbeda dengan buku filsafat akademis yang penuh istilah rumit dan sering bikin pusing, novel filsafat mengemas gagasan-gagasan besar tentang eksistensi, moralitas, dan realitas dalam balutan cerita yang enak diikuti. Genre ini menggabungkan kekuatan narasi fiksi dengan pertanyaan mendalam soal makna hidup, sehingga cocok dibaca siapa saja, termasuk yang baru pertama kali mengenal dunia filsafat. Berikut daftar 10 novel filsafat terbaik sepanjang masa yang layak masuk daftar bacaan liburan Sobat Wisata Viva, disusun dari yang paling ramah pemula hingga paling menantang.
Dunia Sophie, Gerbang Awal yang Paling Ramah
Novel Dunia Sophie atau Sophie's World karya penulis asal Norwegia, Jostein Gaarder, sering disebut sebagai pintu masuk terbaik untuk mengenal filsafat lewat fiksi. Novel yang terbit pertama kali pada 1991 ini mengisahkan Sophie Amundsen, seorang remaja yang tiba-tiba menerima surat misterius berisi pertanyaan eksistensial seperti "Siapa kamu?" dan "Dari mana dunia berasal?". Isi nonfiksinya sendiri kurang lebih sejalan dengan buku klasik A History of Western Philosophy karya Bertrand Russell, sehingga pembaca sekaligus mendapat gambaran utuh sejarah filsafat Barat. Novel ini pernah menyabet penghargaan Deutscher Jugendliteraturpreis pada 1994 dan telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dengan jutaan eksemplar terjual di seluruh dunia.
Orang Asing, Potret Dingin Sebuah Absurditas
Beranjak sedikit lebih berat, ada Orang Asing atau The Stranger karya filsuf sekaligus sastrawan Prancis, Albert Camus, yang terbit pada 1942. Novel ini mengikuti tokoh Meursault, seorang pria di Aljazair yang bersikap dingin dan acuh tak acuh menghadapi kematian ibunya sendiri. Melalui karakter ini, Camus menuangkan gagasan absurdisme, yaitu pandangan bahwa alam semesta pada dasarnya tidak peduli terhadap pencarian makna manusia. Menariknya, Camus sendiri tidak pernah mau disebut sebagai filsuf murni, sebab ia meyakini bahwa hidup tidak cukup hanya direnungkan lewat pemikiran di balik meja, melainkan harus benar-benar dijalani.