Mengapa Mimpi Buruk Sering Kali terjadi Berulang?
- pixabay
Psikologi dan ilmu saraf menawarkan petunjuk tambahan. Misalnya, kita rentan terhadap apa yang disebut bias negatif: kecenderungan untuk lebih memikirkan pikiran, emosi atau interaksi sosial yang tidak menyenangkan daripada hal-hal positif. Perilaku ini berakar pada kebutuhan bawah sadar kita untuk menyelesaikan situasi negatif yang mengancam kelangsungan hidup kita. Bias negatif dapat diperparah dalam tidur karena otak kita dalam mimpi meredam area yang terkait dengan logika linier dan mengaktifkan bagian yang terkait dengan emosi, sehingga melemahkan filter antara pikiran dan perasaan kita.
Memahami dasar psikologis dari mimpi yang berulang merupakan tantangan untuk dipelajari karena sulit untuk mengontrol mimpi dalam konteks eksperimental. Namun peristiwa seperti serangan teroris 9/11 atau pandemi COVID, yang menyebabkan banyak orang mengalami trauma yang sama, telah memungkinkan para ilmuwan untuk menyelidiki pola-pola tertentu yang berhubungan dengan mimpi secara lebih rinci.
Mimpi negatif yang berulang adalah hal biasa dan normal dan ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya. Beberapa orang telah berhasil dalam praktik yang disebut terapi latihan pencitraan, yaitu mereka berulang kali membayangkan kembali mimpi buruk mereka dengan akhir yang lebih bahagia sebelum tidur.