Tengah Populer, Ternyata Begini Konsepsi Kebahagiaan dalam Pandangan Filsafat Stoicisme

Tokoh-tokoh Filsuf Stoicisme
Sumber :
  • Image Creator/Handoko

Malang, WISATA - Stoicisme, sebuah aliran filsafat yang berasal dari Yunani kuno, semakin populer di kalangan masyarakat modern yang mencari kebahagiaan sejati di tengah-tengah kehidupan yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Filsafat ini menawarkan pendekatan yang unik dan mendalam terhadap kebahagiaan, dengan menekankan pengendalian diri, kebajikan, dan pemahaman yang benar tentang apa yang berada dalam kendali kita. Artikel ini akan mengeksplorasi konsep kebahagiaan menurut Stoicisme dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Mengetahui Diri Sendiri: "Kenalilah Dirimu Sendiri" Menurut Pandangan Socrates

Pengantar Filsafat Stoicisme

Stoicisme didirikan oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM dan dikembangkan oleh filsuf terkenal seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius. Stoicisme menekankan bahwa kebahagiaan sejati dicapai melalui pengendalian diri, ketenangan pikiran, dan hidup sesuai dengan kebajikan. Dalam pandangan stoik, kebahagiaan tidak tergantung pada keadaan eksternal, tetapi pada sikap batin dan respons kita terhadap keadaan tersebut.

Mengupas Stoikisme: Asumsi tentang Alam Semesta dan Relevansinya di Era Modern

Konsep Kebahagiaan dalam Stoicisme

1. Pengendalian Diri

Perjalanan Sejarah Filsafat Stoikisme yang Berpengaruh Besar dalam Peradaban Manusia

Stoicisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai dengan mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita, yaitu pikiran, sikap, dan tindakan kita. Hal-hal di luar kendali kita, seperti cuaca, pendapat orang lain, atau kejadian yang tidak terduga, seharusnya tidak mempengaruhi kebahagiaan kita. Dengan fokus pada pengendalian diri, kita dapat mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan yang tahan lama.

2. Kebajikan sebagai Kunci Kebahagiaan

Halaman Selanjutnya
img_title