Sempat Trending di Indonesia, Inilah Pengertian dan Sejarah Asian Value

Asian Value
Sumber :
  • Image Creator/Handoko

Malang, WISATA - Dalam beberapa waktu terakhir, istilah "Asian Value" kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Konsep ini bukanlah sesuatu yang baru, namun sering kali menimbulkan perdebatan mengenai relevansi dan penerapannya di era modern. Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian dan sejarah "Asian Value" serta implikasinya dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi di Asia.

Dibalik Ambisi VOC: Strategi Jan Pieterszoon Coen dalam Menguasai Rempah-Rempah

Pengertian Asian Value

"Asian Value" atau "Nilai-nilai Asia" merujuk pada serangkaian nilai budaya, sosial, dan politik yang diyakini khas dan dominan di negara-negara Asia. Nilai-nilai ini sering dikaitkan dengan konsep seperti kolektivisme, harmoni sosial, penghormatan terhadap otoritas, kerja keras, dan prioritas terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Dari Chrysippus hingga Immanuel Kant: Jejak Filsafat yang Mengubah Pemikiran tentang Logika, Etika, dan Pengetahuan

Istilah ini pertama kali mendapat perhatian internasional pada akhir abad ke-20, terutama melalui pidato dan tulisan para pemimpin politik seperti Lee Kuan Yew dari Singapura dan Mahathir Mohamad dari Malaysia. Mereka mempromosikan "Asian Value" sebagai alternatif dari nilai-nilai Barat yang lebih individualistis dan liberal.

Sejarah Asian Value

Warisan Hegel: Pengaruh Dialektika Idealisme dalam Pemikiran Filsafat dan Politik

Awal Mula dan Perkembangan

1.    1980-an hingga 1990-an: Konsep "Asian Value" muncul sebagai tanggapan terhadap kritikan Barat terhadap praktik-praktik politik dan hak asasi manusia di Asia. Pemimpin seperti Lee Kuan Yew berargumen bahwa nilai-nilai Barat tidak selalu cocok diterapkan di Asia karena perbedaan budaya dan sejarah. Mereka menekankan pentingnya stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi sebagai prasyarat untuk perkembangan sosial.

Halaman Selanjutnya
img_title