Ketahanan Pangan Berbasis Itik: Brebes Punya Jurus Rahasia
- Masterplan kawasan pangan produktif
Brebes, WISATA — Ketika isu ketahanan pangan menjadi prioritas nasional, Kabupaten Brebes muncul dengan strategi yang tak biasa: itik dan telur asin dijadikan ujung tombak. Di balik langkah strategis ini, terdapat sebuah dokumen penting yang kini ramai diperbincangkan — Masterplan Pangan Produktif Berbasis Peternakan.
Disusun oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes di bawah komando drh. Ismu Subroto, masterplan ini bukan hanya menjadi panduan pembangunan, tetapi juga manifestasi mimpi besar menjadikan Brebes sebagai lumbung pangan nasional.
“Itik bukan sekadar unggas biasa bagi Brebes. Ia adalah budaya, ekonomi, dan simbol ketahanan,” kata drh. Ismu Subroto, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.
Brebes: Bukan Lagi Hanya Bawang Merah
Selama ini Brebes dikenal sebagai penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Namun data terbaru mengungkap bahwa sektor peternakan, khususnya itik, menyimpan potensi yang belum tergarap optimal.
“Populasi itik di Brebes mencapai hampir dua juta ekor. Dengan produksi telur asin yang mendunia, sayang kalau tidak kita optimalkan jadi kekuatan ekonomi baru,” ujar drh. Ismu.
Limbangan Wetan Jadi Pusat Perubahan
Kelurahan Limbangan Wetan di Kecamatan Brebes dipilih sebagai lokasi pengembangan kawasan pangan produktif. Kawasan ini akan menjadi model integrasi sektor peternakan, pertanian, dan perikanan.
“Limbangan Wetan punya akses pasar, infrastruktur yang baik, dan tradisi kuat dalam usaha telur asin. Kami melihatnya sebagai simpul strategis yang siap dikembangkan,” jelas drh. Ismu.
Konsep Terpadu: Dari Kandang ke Eduwisata
Konsep utama dalam masterplan ini adalah pertanian terpadu atau integrated farming. Peternakan itik akan diintegrasikan dengan budidaya padi, jagung, perikanan, hingga pengolahan limbah organik menjadi pupuk.
“Kami ingin ciptakan ekosistem. Kotoran itik bisa jadi pupuk, air kolam bisa bersirkulasi ke sawah, dan produk olahan seperti telur asin bisa langsung dipasarkan di kawasan eduwisata,” paparnya.
Bahkan kawasan ini dirancang sebagai destinasi edukatif dan wisata, di mana masyarakat bisa belajar langsung cara beternak, membuat telur asin, hingga melihat praktik pertanian organik.
Dari Rantai Nilai Hingga Swasembada
Dalam dokumen masterplan yang memuat lebih dari 200 halaman, Dinas Peternakan memetakan rantai nilai agribisnis, mulai dari produksi, distribusi, pengolahan, hingga pemasaran.