Plato: Kebaikan adalah Sifat yang Harus Dicapai dan Bukan Hanya Sesuatu yang Harus Dicari

Plato (ilustrasi)
Sumber :
  • Image creator Bing/ Handoko

Jakarta, WISATA - Plato, salah satu filsuf terbesar dalam sejarah, memiliki pandangan mendalam tentang konsep kebaikan. Baginya, kebaikan bukan hanya sesuatu yang harus dicari, melainkan sifat yang harus dicapai melalui usaha dan pengembangan diri. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi pandangan Plato tentang kebaikan dan bagaimana ajarannya tetap relevan dalam konteks kehidupan modern.

Berbicaralah agar Aku Bisa Melihat Siapa Dirimu: Menyelami Makna Filosofis dari Kutipan Socrates

Latar Belakang Filosofi Plato

Plato lahir pada tahun 427 SM di Athena, Yunani. Dia adalah murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles, membentuk dasar dari banyak pemikiran filosofis Barat. Karya-karya Plato, seperti "Republik" dan "Phaedrus," mengeksplorasi berbagai topik, termasuk etika, politik, dan metafisika. Salah satu konsep sentral dalam filosofinya adalah kebaikan, yang dianggap sebagai tujuan tertinggi dalam kehidupan manusia.

Makna Mendalam Kutipan Plato:

Kebaikan sebagai Tujuan Tertinggi

Menurut Plato, kebaikan adalah bentuk tertinggi dari realitas, lebih penting daripada pengetahuan atau keadilan. Dalam dialognya "Republik," Plato menggambarkan kebaikan sebagai matahari yang menerangi semua bentuk lain dari pengetahuan dan realitas. Dia percaya bahwa hanya melalui pemahaman dan pencapaian kebaikan seseorang dapat mencapai kehidupan yang benar-benar memuaskan dan bermakna.

Jejak Kebijaksanaan: Pelajaran Hidup dari Filsuf Yunani Plato, Buddha, Rumi, dan Sunan Kalijaga

1.    Kebaikan Sebagai Sifat yang Dicapai

Plato melihat kebaikan sebagai sesuatu yang harus dicapai melalui pendidikan dan pengembangan moral. Ini bukan sekadar sifat bawaan atau sesuatu yang dapat dicari dan ditemukan dengan mudah, melainkan hasil dari usaha dan latihan yang berkelanjutan. Kebaikan, menurut Plato, adalah puncak dari kebijaksanaan dan kebajikan.

Halaman Selanjutnya
img_title