Kuliner Unik Laphet Thoke, Nikmatnya Daun Teh Fermentasi
- researchgate.net
Malang, WISATA – Nikmati keunikan rasa kuliner tradisional Myanmar melalui hidangan laphet thoke yang lezat, paduan daun teh fermentasi dan tekstur renyah yang menggugah selera.
Menjelajahi ragam kuliner mancanegara selalu memberikan pengalaman yang tak terlupakan, terutama ketika Anda menemukan tradisi kuliner yang benar-benar berbeda dari kebiasaan sehari-hari. Jika biasanya daun teh hanya dinikmati dalam bentuk seduhan hangat di dalam cangkir, pengalaman tersebut sama sekali tidak akan Anda temukan di Myanmar. Negara di kawasan Asia Tenggara ini menyimpan tradisi kuliner yang sangat unik karena masyarakatnya gemar mengonsumsi daun teh sebagai bahan makanan utama. Anda akan diajak menyelami kelezatan kuliner lokal yang melegenda melalui hidangan tradisional bernama laphet thoke yang sangat populer di berbagai penjuru negeri.
Bagi Anda yang sedang merencanakan liburan kuliner, mencicipi hidangan khas Myanmar berupa olahan laphet thoke tentu menjadi agenda wajib yang tidak boleh dilewatkan. Dalam bahasa lokal, kata laphet memiliki arti daun teh fermentasi, sedangkan kata thoke berarti salad yang diaduk bersama. Hidangan unik ini tidak hanya disajikan sebagai camilan ringan pendamping bersantai di sore hari, tetapi juga menjadi sajian istimewa untuk menyambut tamu kehormatan di setiap rumah warga lokal. Perpaduan rasa gurih, asam, pedas, dan tekstur yang renyah menjadikan makanan ini sebagai salah satu warisan kuliner paling ikonik yang mencerminkan kekayaan budaya masyarakat setempat.
Tradisi Unik Fermentasi Daun Teh di Dataran Tinggi
Proses pembuatan hidangan tradisional ini ternyata melibatkan tahapan panjang yang sarat akan warisan leluhur. Para petani pegunungan di Negara Bagian Shan biasanya memetik pucuk daun teh segar dari tanaman Camellia sinensis pada musim panen raya di musim semi. Pucuk daun pilihan tersebut kemudian dikukus selama beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam wadah besar untuk melalui proses fermentasi alami menggunakan bantuan bakteri asam laktat di dalam tanah selama tiga hingga empat bulan.
Teknik pengawetan tradisional ini dulunya dikembangkan oleh suku-suku pedalaman kuno dengan cara memasukkan daun teh ke dalam ruas bambu atau kendi tanah liat. Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa tradisi budidaya teh sudah diperkenalkan sejak masa Dinasti Pagan pada abad kedua belas. Pada masa lampau, para raja dan pemimpin suku di Myanmar bahkan sering menggunakan daun teh fermentasi sebagai simbol perdamaian untuk meredakan perselisihan serta menyelesaikan sengketa antarwilayah.