Ketika Mubeng Benteng Muncul Jadi Wacana Destinasi Wisata di Batang, Jawa Tengah

Tradisi "Mubeng Benteng" atau Mengelilingi Tembok Luar Area Kantor Bupati Batang, Jateng
Sumber :
  • infopublik.id

Batang, WISATA – Tradisi "Mubeng Benteng" atau mengelilingi tembok luar area Kantor Bupati Batang, Jawa Tengah, kembali mengemuka, setelah beberapa tahun menggelar kirab Malam Satu Suro hanya di dalam kompleks. 

Hal ini menjadi wacana dari keluarga besar ahli waris Kyai Tombak Abirawa, sebagai upaya mengembalikan tradisi leluhur, sekaligus menjadikan ikon destinasi wisata budaya Kabupaten Batang.

Pernyataan ini diungkapkan R. Susanto Waluyo, selaku ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, usai memimpin kirab Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa

Susanto menilai perlu mengembalikan tradisi tersebut, sebagai langkah pelestarian sekaligus menjadikan ikon wisata budaya di Kabupaten Batang.

“Saat ini "Mubeng Benteng" satu kali hanya di dalam komplek, yakni dengan mengelilingi area kantor Setda saja. Ke depan dengan berkoordinasi bersama dinas terkait, tradisi tersebut akan dilakukan di luar area Kantor Bupati,” ujarnya saat ditemui di Komplek Kantor Bupati Kabupaten Batang, pada hari Rabu (17/6/2026).

Ia menyatakan, tradisi tersebut sebelumnya telah rutin dilakukan oleh para pendahulu, namun untuk mengembalikannya perlu koordinasi dengan instansi terkait. 

"Rencananya jika terealisasi, Malam Satu Suro tahun depan, prosesi kirab Kyai Tombak Abirawa akan melewati rute Jalan Kartini - Ahmad Yani - Ahmad Dahlan - Brigjen Katamso dan kembali ke Jalan Kartini atau Pendapa Kabupaten," ungkapnya.

Pihaknya perlu menjalin komunikasi intensif dengan dinas-dinas terkait, agar wacana tersebut terwujud, karena melihat nilai kemanfaatan yang besar, baik dari sudut pandang budaya maupun kepariwisataan.

“Mubeng Benteng di luar komplek Kantor Bupati itu, biar masyarakat itu makin mengenal tradisi leluhur pendiri Batang. Apalagi jika dikolaborasikan dengan destinasi wisata budaya, tentu menjadi ciri khas tiap momentum Satu Muharam atau Malam Satu Suro, ada tradisi tersebut,” imbuhnya.

Dari sudut pandang kebudayaan, Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo juga mendukung, karena dapat dijadikan even budaya tahunan Malam Satu Suro atau Satu Muharam. 

Meski demikian, perlu dilakukan koordinasi terlebih dahulu prosesi dapat berjalan sesuai paugeran atau patokan dari leluhur, namun tetap menarik di mata wisatawan.

“Karena pelaksanaannya malam penataan lebih intensif, mulai dari peserta kirab, rute hingga lalulintas dan kondisi keamanan karena nantinya akan ada banyak warga dan penonton. Jika tahun depan dimungkinkan, tentu persiapannya harus dilakukan lebih awal, karena butuh persiapan yang matang,” tuturnya.

Dengan mewacanakan tradisi "Mubeng Benteng" di luar pendapa, sebagai destinasi wisata budaya tentu akan mendatangkan banyak pengunjung, sehingga prosedur pengamanan harus dipersiapkan semaksimal mungkin.

“Kalau biasanya kirab budaya dilakukan siang hari, tentu berbeda pengamanannya pun berbeda ketika kirab di malam hari. Pengamanan harus ekstra karena demi menjaga kesakralan tradisi Malam Satu Suro,” ujarnya.

Untuk merealisasikannya pihak Disdikbud akan berkomunikasi lebih intens terlebih dahulu dengan ahli waris dan mendapat izin dari Bupati Batang. 

Ia berharap, masyarakat mengetahui keluhuran adat dan budaya Kabupaten Batang yang ada sejak lama.

“Melalui kirab "Mubeng Benteng" Malam Satu Suro nantinya generasi muda Batang makin mengenal adat dan tradisi leluhurnya,” harapnya.

(Sumber: infopublik.id)

img_title Dari Tradisi ke Tren Global: Pacu Jalur dan Aura Farming Buka Pintu Wisata Internasional