Misteri Geometri Mesir Kuno: Rahasia Coretan Scribe di Atas Papirus
- archaeologymag.com/Kelly, T.
Gambar Sederhana yang Mementingkan Fungsi Dibanding Estetika
Para juru tulis kuno ini jelas bukan seorang seniman yang cermat dalam melukis. Pena lalang yang mereka gunakan hanya mampu menampung sedikit tinta, ditambah lagi serat-serat kasar papirus sering kali menyangkut ketika mereka mencoba menarik garis lurus. Tak heran jika beberapa garis menunjukkan jejak percobaan berulang kali. Karena tidak ada yang menggunakan jangka (compass), bentuk lingkaran yang dihasilkan pun tampak sedikit miring dan tidak presisi.
Segitiga siku-siku hampir selalu digambar dengan pola visual yang sama: sudut siku-siku diletakkan di pojok kiri bawah dengan alas yang lebih panjang daripada tingginya. Dalam satu kasus, ada segitiga yang memiliki alas sepanjang 7 unit dan tinggi 9 unit, namun sang scribe tetap menggambar bentuk tersebut hampir dua kali lebih lebar dibanding tingginya. Kelly menilai bahwa tampilan bentuk yang familier dan konsisten jauh lebih penting bagi mereka daripada akurasi proporsi visual. Selain itu, bentuk-bentuk standar tersebut memakan lebih sedikit ruang pada lembaran papirus yang berharga.
Penulisan label angka juga memiliki aturan kebiasaan yang sangat rapi. Nilai-nilai yang diketahui diletakkan di luar garis bentuk. Sementara itu, luas area dan jawaban akhir dituliskan di dalam bentuk atau di sisi kanan luar yang menjadi tempat khusus untuk hasil perhitungan. Juru tulis juga sering menuliskan angka tambahan. Dalam P. Math, sebuah codex pengajaran dari abad keempat, sebuah segitiga menampilkan nilai kuadrat dari kedua sisinya yang ditulis tepat di samping sisi tersebut. Salah satu nilai, yaitu 225, sebenarnya belum dibutuhkan sampai langkah perhitungan berikutnya. Kelly mengartikan catatan ekstra ini sebagai alat bantu ingatan (memory aid). Lembaran papirus bertindak sebagai penyimpan angka, sehingga sang juru tulis tidak perlu membebaninya di dalam kepala.
Diagram Sebagai Ruang Kerja dan Bukti Logis
Dalam beberapa lembaran papirus, diagram memegang peran yang jauh lebih berat. Pada papirus koleksi Chicago, teks tulisan sama sekali tidak memuat angka pengukuran. Pembaca wajib menarik dan mengambil setiap nilai angka langsung dari gambar diagram yang tersedia. Contoh lain ada pada P. Bagnall 35, di mana sketsa terletak di antara pernyataan masalah dan langkah penyelesaian. Teks tulisan menyebutkan petunjuk arah seperti utara dan barat, yang tidak akan masuk akal tanpa kehadiran gambar di sampingnya. Pembaca benar-benar membutuhkan sketsa visual tersebut untuk mengikuti langkah penyelesaian soal.