Peneliti Ungkap Strain E. Coli Menyebar Secepat Flu Babi
- IG/artis_micropia
Jakarta, WISATA – Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Wellcome Trust Sanger Institute menggunakan data genomik dari Inggris dan Norwegia berhasil memberikan gambaran baru mengenai bagaimana bakteri Escherichia coli (E. coli) berpindah dari satu individu ke individu lain.
Selama ini, E. coli dikenal sebagai bakteri yang hidup normal di usus manusia, namun beberapa strain dapat menyebabkan infeksi serius, terutama bila sudah mengalami resistansi terhadap antibiotik.
Dalam studi tersebut, para peneliti memodelkan laju transmisi antar manusia dan menemukan bahwa tidak semua strain E. coli memiliki kemampuan menyebar dengan kecepatan yang sama. Salah satu strain bahkan menunjukkan pola penyebaran yang setara dengan virus flu babi (H1N1), yang pernah memicu pandemi global pada tahun 2009. Temuan ini mengejutkan karena selama ini bakteri dianggap menyebar lebih lambat dibandingkan virus.
Lebih jauh, penelitian ini menekankan pentingnya pemantauan berbasis genomik untuk mengidentifikasi perbedaan antar strain. Dengan pendekatan ini, sistem kesehatan dapat lebih cepat mendeteksi potensi wabah, terutama yang melibatkan bakteri resisten antibiotik. Resistansi antibiotik sendiri telah menjadi masalah global yang serius, karena dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian, serta menambah beban ekonomi.
Selain itu, hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam strategi pengendalian infeksi di rumah sakit maupun komunitas. Dengan mengetahui strain mana yang paling cepat menular, tenaga medis dapat menyusun protokol pencegahan yang lebih tepat sasaran. Hal ini sejalan dengan konsep One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
Kehadiran data ilmiah ini menjadi peringatan bahwa bakteri, sama seperti virus, dapat berkembang menjadi ancaman global bila tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu, kolaborasi internasional dalam riset dan kebijakan kesehatan publik sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran strain berbahaya di masa depan.
Sumber: sciencedaily.com, unair.ac.id