Mengasihi Diri Sendiri: Pelajaran Stoikisme di Dunia yang Keras
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — Di tengah dunia yang semakin cepat, kompetitif, dan penuh tekanan sosial, banyak orang justru melupakan satu hal paling mendasar: mengasihi diri sendiri. Di saat tuntutan eksternal menumpuk dan standar kesuksesan terus berubah, praktik self-love tidak lagi menjadi kemewahan emosional—tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan jiwa.
Salah satu pendekatan yang kini mendapat perhatian luas adalah Stoikisme, aliran filsafat kuno dari Yunani-Romawi yang kini hidup kembali lewat pemikiran modern, termasuk oleh tokoh seperti Jules Evans. Melalui berbagai tulisan dan ceramahnya, Evans menekankan bahwa mengasihi diri sendiri bukan berarti memanjakan diri, melainkan membebaskan diri dari dominasi pikiran negatif.
“Mengasihi diri sendiri berarti tidak membiarkan pikiran negatif mendominasi hidup Anda,” tulis Jules Evans dalam salah satu refleksinya.
Stoikisme dan Pengendalian Diri: Jalan Menuju Cinta Diri Sejati
Stoikisme dikenal dengan prinsip utamanya: mengendalikan hal-hal yang bisa kita kontrol, dan menerima dengan lapang hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Namun lebih dari itu, Stoikisme juga mengajarkan bahwa kehidupan batin kita adalah tanah suci yang harus dijaga.
Mengasihi diri sendiri versi Stoik bukan soal membenarkan setiap perasaan, tetapi memelihara kualitas pikiran dan tindakan yang sehat. Ini adalah bentuk kasih yang tidak selalu lunak, namun jujur dan membangun.
Latihan Stoik yang mendukung kasih pada diri sendiri antara lain: