Mark Tuitert: Belajar dari Emosi Negatif, Bukan Melawannya

Mark Tuitert
Sumber :
  • Cuplikan layar

Malang, WISATA – “Kesedihan, kemarahan, dan ketakutan adalah guru, bukan musuh.” Kalimat bijak ini datang dari Mark Tuitert, juara Olimpiade asal Belanda yang kini dikenal luas sebagai penulis dan pembicara motivasi. Dalam era yang kerap menuntut kebahagiaan instan dan penyangkalan terhadap perasaan negatif, kutipan ini menjadi oase yang menyegarkan.

img_title World Mental Health Day 2026 di Indonesia: Tema, Makna, dan Aksi Nyata Peduli Kesehatan Mental

Tuitert, melalui karya dan pemikirannya yang terinspirasi dari filosofi Stoikisme, mengajak kita untuk memandang emosi negatif sebagai bagian alami dari kehidupan. Lebih dari itu, ia mendorong kita untuk menjadikan emosi-emosi tersebut sebagai sarana pembelajaran dan pertumbuhan diri.

Emosi Bukan Musuh, Tetapi Sinyal

img_title Manfaat Membaca untuk Kesehatan Otak dan Kesejahteraan Hidup

Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan sering dianggap sebagai kelemahan yang harus ditekan atau diabaikan. Namun menurut Tuitert, justru inilah kesalahan mendasar dalam cara kita merespons emosi.

“Emosi negatif adalah sinyal penting. Mereka muncul karena ada sesuatu dalam hidup yang perlu kita perhatikan lebih dalam,” ujarnya dalam wawancara dengan media internasional.

img_title Kisah Nabi Yunus dan Tanaman Labu: Hikmah Pertolongan Allah serta Manfaatnya bagi Kesehatan Mental

Sebagai contoh, kesedihan bisa menandakan adanya kehilangan yang perlu diterima, kemarahan bisa menjadi isyarat adanya ketidakadilan, dan ketakutan bisa membantu kita bersiap menghadapi risiko atau perubahan.

Pelajaran dari Dunia Olahraga

Mark Tuitert bukan hanya seorang motivator; ia juga seorang atlet kelas dunia yang memahami tekanan, kegagalan, dan stres dari dalam. Ia memenangkan medali emas di Olimpiade Musim Dingin Vancouver 2010 untuk cabang speed skating 1500 meter, namun di balik kejayaan itu, ada banyak perjuangan batin yang harus dihadapi.

“Setiap kali saya merasa takut atau marah saat latihan atau lomba, saya belajar untuk bertanya: apa yang sebenarnya tubuh dan pikiran saya coba katakan?” jelasnya. Bagi Tuitert, emosi bukan penghalang performa, tetapi justru bahan bakar untuk memahami diri lebih dalam.

Pendekatan Stoik terhadap Emosi

Stoikisme, filosofi kuno yang dianut Tuitert, mengajarkan bahwa emosi bukan untuk ditolak, melainkan untuk dikelola dengan kesadaran penuh. Filosofi ini tidak memerintahkan untuk menjadi ‘kebal’ terhadap rasa sakit, tetapi untuk melihatnya secara objektif dan menggunakannya sebagai alat refleksi.

Halaman Selanjutnya
img_title