Jejak Wisatawan Kuno di Lembah Para Raja Mesir
- livescience.com
Malang, WISATA – Temukan kisah Cikai Korran, turis asal India 2.000 tahun lalu yang meninggalkan jejak 'graffiti' unik di makam Firaun, membuktikan Mesir sudah menjadi destinasi global sejak era Romawi.
Membayangkan liburan ke Mesir saat ini tentu identik dengan kamera mirrorless, topi petualang dan unggahan di media sosial. Namun, tahukah Anda bahwa sekitar dua milenium yang lalu, seorang pengembara bernama Cikai Korran sudah melakukan hal yang serupa? Bedanya, alih-alih mengunggah foto di Instagram, ia mengabadikan kehadirannya dengan mengukir namanya di dinding-dinding batu Valley of the Kings atau Lembah Para Raja yang sangat sakral. Fenomena ini membuktikan bahwa gairah untuk menjelajah dunia dan keinginan untuk 'eksis' sudah mendarah daging dalam jiwa manusia sejak zaman dahulu kala.
Lembah Para Raja yang terletak di tepi barat Sungai Nil merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi para penguasa besar Mesir Kuno. Di balik kemegahan hieroglif dan lukisan dewa-dewi yang menghiasi lorong-lorong makam, para peneliti baru-baru ini mengungkap sisi lain yang sangat manusiawi. Ternyata, pada masa pendudukan Romawi di Mesir antara abad pertama hingga ketiga Masehi, tempat ini sudah menjadi destinasi wisata populer bagi orang-orang dari tempat yang sangat jauh, termasuk dari daratan India.
Penemuan Tulisan Kuno yang Tersembunyi
Selama puluhan tahun, para ahli Mesir Kuno atau Egyptologists sebenarnya sudah menyadari adanya coretan-coretan asing di dinding makam. Beberapa bahkan sempat mencatatnya, namun mereka tidak mampu mengidentifikasi bahasa tersebut. Misteri ini akhirnya terpecahkan melalui penelitian terbaru yang dipresentasikan pada konferensi internasional Tamil Epigraphy di Chennai pada Februari 2026. Para ahli bahasa dan sejarawan berhasil mengidentifikasi sekitar tiga puluh prasasti pendek yang ditulis dalam tiga bahasa India kuno di enam makam berbeda.
Salah satu sosok yang paling mencuri perhatian adalah Cikai Korran. Pria ini bisa dibilang sebagai 'turis paling narsis' pada zamannya. Bayangkan saja, ia meninggalkan tanda tangannya sebanyak delapan kali di lima makam yang berbeda. Menggunakan bahasa Tamil Kuno, ia menuliskan kalimat sederhana namun bermakna mendalam yang jika diterjemahkan berarti Cikai Korran datang ke sini dan melihat. Kalimat ini mengingatkan kita pada ungkapan populer Veni, Vidi, Vici milik Julius Caesar, namun dalam versi yang lebih santai dan berjiwa pelancong.
Misteri Sang Pendaki Dinding dari India
Keunikan jejak Cikai Korran tidak hanya terletak pada frekuensinya, tetapi juga pada lokasinya yang tak lazim. Charlotte Schmid, seorang peneliti dari French School of the Far East, mengungkapkan sebuah fakta yang membuat dahi berkerut. Di makam Ramses IX, Korran meninggalkan jejaknya di ketinggian sekitar lima hingga enam meter di atas pintu masuk makam. Hal ini memicu pertanyaan menggelitik bagi para arkeolog dan wisatawan masa kini mengenai bagaimana cara ia memanjat setinggi itu hanya untuk meninggalkan sebuah nama.
Apakah ia membawa tangga lipat kuno atau berdiri di atas pundak kawan-perjalanannya? Keberadaan graffiti di tempat yang sulit dijangkau ini menunjukkan betapa besarnya upaya yang ia lakukan untuk menandai kunjungannya. Di makam lain milik Firaun Tausert dan Setnakhte, tanda tangan Korran ditemukan tepat di depan pintu masuk. Menariknya, itu adalah satu-satunya coretan yang ada di sana, mengisyaratkan bahwa saat ia berkunjung, bagian dalam makam tersebut mungkin sudah tertutup bagi umum, namun ia tetap bersikeras meninggalkan jejak di ambang pintunya.
Utusan Raja dan Jalur Perdagangan Samudra
Selain Cikai Korran yang misterius, ditemukan pula jejak seorang pria bernama Indranandin. Berbeda dengan Korran yang terlihat seperti pelancong independen, Indranandin meninggalkan catatan dalam bahasa Sanskerta yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang utusan dari Raja Kshaharata. Dinasti ini diketahui memerintah sebagian wilayah India pada abad pertama Masehi. Para ahli menduga bahwa Indranandin mungkin sedang dalam misi diplomatik menuju Roma, ibu kota kekaisaran yang saat itu menguasai Mesir.
Perjalanan epik dari India ke Mesir pada masa itu tentu bukan perkara mudah. Ingo Strauch dari Universitas Lausanne menjelaskan bahwa kemungkinan besar para petualang ini tiba menggunakan kapal di pelabuhan Berenike yang terletak di pesisir Laut Merah. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan darat menembus padang pasir menuju pedalaman hingga mencapai Lembah Para Raja. Keberadaan mereka menjadi bukti nyata bahwa hubungan perdagangan dan budaya antara India, Mesir, dan Romawi sudah sangat erat melalui jalur sutra maritim.
Wisata Sejarah dengan Perspektif Baru
Penemuan ini memberikan warna baru bagi industri pariwisata Mesir. Jika selama ini kita hanya fokus pada kemegahan Firaun dan arsitektur piramida, kini kita bisa melihat Lembah Para Raja sebagai titik temu peradaban dunia. Tulisan-tulisan kuno ini membuktikan bahwa orang India kuno tidak hanya datang untuk berdagang lada atau kain sutra, tetapi mereka juga memiliki ketertarikan aktif terhadap budaya dan sejarah tanah Mesir yang eksotis.
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Mesir, menelusuri jejak-jejak kecil ini memberikan sensasi kedekatan emosional dengan para pelancong masa lalu. Kita menyadari bahwa keinginan untuk melihat dunia, mengagumi keajaiban masa lalu, dan meninggalkan sedikit jejak keberadaan kita adalah sifat universal manusia yang melampaui waktu dan batas negara. Lembah Para Raja bukan lagi sekadar makam yang sunyi, melainkan sebuah saksi bisu dari ribuan tahun langkah kaki para pencari pengalaman dari seluruh penjuru bumi.
Informasi mengenai temuan menarik ini dapat divalidasi lebih lanjut melalui laporan riset yang diterbitkan oleh Live Science serta prosiding konferensi Tamil Epigraphy: A four-day international conference 2026 yang diterbitkan oleh Pemerintah Tamil Nadu. Penelitian ini membuka jalan bagi penemuan-penemuan serupa di kuil-kuil atau situs bersejarah lainnya di sepanjang aliran Sungai Nil, menjanjikan narasi sejarah yang lebih kaya bagi dunia pariwisata global.
Melihat antusiasme para peneliti saat ini, bukan tidak mungkin di masa depan kita akan menemukan lebih banyak lagi nama-nama pengembara kuno yang terselip di antara kemegahan monumen Mesir. Sebuah pengingat manis bahwa setiap dari kita adalah bagian dari rantai panjang perjalanan manusia di muka bumi ini. Jadi, saat Anda berdiri di depan makam megah di Mesir nanti, bayangkanlah Cikai Korran yang berdiri di sana dua ribu tahun sebelum Anda, menatap langit yang sama dengan rasa kagum yang serupa.
Sumber: Live Science