Kopi Priangan: Jejak Emas Java Preanger dari Lereng Garut hingga Tasikmalaya yang Mendunia
- IG/puncak_kopigayo
Jakarta, WISATA - Dari lereng berhawa sejuk di selatan Jawa Barat, aroma kopi yang khas dan lembut perlahan merebak. Di balik kabut tipis pegunungan, tumbuh biji kopi yang menyimpan kisah panjang tentang alam, manusia, dan sejarah. Inilah Kopi Priangan atau Java Preanger, kebanggaan masyarakat Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis yang kini namanya dikenal hingga mancanegara.
Sejarah dan Identitas Kopi Priangan
Kopi Priangan bukan sekadar komoditas, melainkan warisan sejarah yang sudah berakar sejak masa kolonial Belanda. Wilayah Priangan dikenal sejak dahulu sebagai penghasil kopi terbaik di Hindia Belanda, dan hasilnya pernah menjadi primadona di pasar Eropa. Nama “Java Preanger” bahkan menjadi simbol kualitas tinggi untuk kopi asal Jawa Barat.
Kini, cita rasa khasnya tetap terjaga. Mengandalkan varietas Arabika Typica dan Lini S, kopi ini tumbuh di ketinggian antara 1.200 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut di bawah naungan hutan-hutan Perhutani. Dengan karakter rasa fruity, floral, citrusy, dan menghasilkan clean cup, Kopi Priangan dianggap sebagai salah satu kopi dengan profil rasa paling seimbang di Indonesia.
KPH Garut: Sentra Kopi di Lereng Gunung Papandayan
Wilayah Garut menjadi salah satu jantung utama penghasil Kopi Priangan. Kawasan ini berada di bawah pengelolaan Perhutani KPH Garut yang mencakup hutan di Cikajang, Bayongbong, Cisurupan, Bungbulang, dan Pamulihan. Dengan ketinggian ideal dan tanah vulkanik yang kaya mineral, kebun-kebun kopi tumbuh subur di lereng Gunung Papandayan, Cikuray, dan Talaga Bodas.
Petani di kawasan ini tergabung dalam Gapoktan Kopi Priangan dan Koperasi Tani Mandiri, bekerja sama dengan Perhutani melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Mereka bukan hanya menanam, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan agar kopi tumbuh berkelanjutan tanpa merusak alam. Dukungan dari Dinas Perkebunan Jawa Barat (Disbun Jabar) serta pendampingan dari Specialty Coffee Association (SCA) pada tahun 2024 memperkuat kualitas dan daya saing kopi Garut di tingkat internasional.
KPH Tasikmalaya: Keasaman Lembut dari Lereng Priangan Timur
Tasikmalaya, di bawah pengelolaan Perhutani KPH Tasikmalaya, memiliki karakter lahan berbukit dengan ketinggian sekitar 1.100 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Kopi dari wilayah ini dikenal memiliki cita rasa citrusy dan clean cup, hasil dari kombinasi iklim pegunungan dan teknik pengolahan modern seperti washed dan natural process.